Makalah Metodologi Kep. ‘Intervensi Keperawatan’

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam dunia keperawatan dikenal proses keperawatan, langkah ketiga dari proses keperawatan adalah rencana (intervensi) keperawatan. Intervensi diidentifikasi untuk memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien. Intervensi mempunyai maksud mengindividualkan perawatan dengan memenuhi kebutuhan spesifik pasien serta harus menyertakan kekuatan – kekuatan pasien yang telah diidentifikasi bila memungkinkan.

Perencanaan adalah sesuatu yang telah dipertimbangkan secara mendalam, tahap yang sistematis dari proses keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan pemecahan masalah (Kozier et al 1995).

Langkah – langkah dalam membuat perencanaan keperawatan meliputi : penetapan prioritas, penetapan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan, menentukan intervensi keperawatan yang tepat dan pengembangan rencana asuhan keperawatan. Setelah diagnosa keperawatan dirumuskan secara spesifik, perawat menggunakan kemampuan berfikir kritis untuk segera menetapkan prioritas diagnosa keperawatan dan intervensi yang penting sesuai dengan kebutuhan klien (Potter & Perry, 1997).

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan yang ingin kami bahas yaitu :

  • Mengidentifikasi pengertian intervensi?
  • Mengidentifikasi tipe intervensi?
  • Mengidentifikasi syarat intervensi?
  • Mengidentifikasi langkah – langkah intervensi?
  • Mengidentifikasi faktor dalam tekhnik penulisan intervensi keperawatan?
  • Mengidentifikasi hal – hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan intervensi?

 

  1. TUJUAN
  • TUJUAN UMUM

Setelah mengikuti proses pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu memahami intervensi keperawatan.

  • TUJUAN KHUSUS

Setelah mengikuti proses pembelajaran mahasiswa dapat :

  1. Menjelaskan pengertian intervensi
  2. Menjelaskan tipe intervensi
  3. Menjelaskan syarat intervensi
  4. Menjelaskan langkah – langkah intervensi
  5. Menjelaskan faktor dalam tekhnik penulisan intervensi keperawatan
  6. Menjelaskan hal – hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan intervensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • Pengertian

Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk membantu klien dalam beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat yang diinginkan dalam hasil yang diharapkan (Gordon, 1994). Intervensi keperawatan adalah semua tindakan asuhan yang perawat lakukan atas nama klien. Tindakan ini termasuk intervensi yang diprakarsai oleh perawat, dokter, atau intervensi kolaboratif (McCloskey & Bulechek, 1994).

Intervensi (perencanaan) adalah kegiatan dalam keperawatan yang meliputi; meletakkan pusat tujuan pada klien, menetapkan hasil yang ingin dicapai, dan memilih intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan (Potter dan Perry, 1997). Tahap perencanaan memberi kesempatan kepada perawat, klien, keluarga dan orang terdekat klien untuk merumuskan rencana tindakan keperawatan guna mengatasi masalah yang dialami klien. Perencanaan ini merupakan suatu petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat rencana tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosis keperawatan.

Tahap perencanaan dapat disebut sebagai inti atau pokok dari proses keperawatan sebab perencanaan merupakan keputusan awal yang memberi arah bagi tujuan yang ingin dicapai, hal yang akan dilakukan, termasuk bagaimana, kapan, dan siapa yang akan melakukan tindakan keperawatan. Karenanya, dalam menyusun rencana tindakan keperawatan untuk klien, keluarga dan orang terdekat perlu dilibatkan secara maksimal.

Tahap perencanaan ini memiliki beberapa tujuan penting, diantaranya sebagai alat komunikasi antara sesama perawat dan tim kesehatan lainnya; meningkatkan kesinambungan asuhan keperawatan bagi klien; serta mendokumentasikan proses dan kriteria hasil asuhan keperawatan yang ingin dicapai.

Unsur terpenting pada tahap perencanaan ini adalah membuat prioritas urutan diagnosis keperawatan, merumuskan tujuan, merumuskan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi keperawatan.

 

  • Tipe intervensi

Terdapat tiga kategori intervensi keperawatan yaitu intervensi yang diprakarsai oleh perawat, dokter dan intervensi kolaboratif. Kategori pemilihan didasarkan pada kebutuhan klien. Satu klien mungkin membutuhkan semua dari ketiga kategori, sementara klien lainnya mungkin hanya membutuhkan intervensi yang diprakarsai oleh perawat dan dokter.

  • Intervensi Perawat

Intervensi perawat adalah respon perawat terhadap kebutuhan perawatan kesehatan dan diagnnosa keperawatan klien. Tipe intervensi ini adalah “Suatu tindakan autonomi berdasarkan rasional ilmiah yang dilakukan untuk kepentingan klien dalam cara yang diprediksi yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan klien” (Bulechek & McCloskey, 1994).

Intervensi ini tidak membutuhkan supervisi atau arahan dari orang lain. Sebagai contoh, intervensi untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi yang adekuat atau aktivitas kehidupan sehari – hari yang berhubungan dengan higiene adalah tindakan keperawatan mandiri.

Intervensi perawat tidak membutuhkan instruksi dokter atau profesi lainnya. Dokter seringkali dalam instruksi tertulisnya mencakup intervensi keperawatan mandiri. Namun demikian berdasarkan undang – undang praktik keperawatan di sebagian besar negara bagian, tindakan keperawatan yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari – hari, penyuluhan kesehatan, promosi kesehatan, dan konseling berada dalam domain praktik keperawatan.

  • Intervensi Dokter

Intervensi dokter didasarkan pada respon dokter terhadap dioagnosa medis, dan perawat menyelesaikan instruksi tertulis dokter (Bulechek & McCloskey, 1994). Memberikan medikasi, mengimplementasikan suatu prosedur invasif, mengganti balutan dan menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik adalah contoh – contoh dari intervensi tersebut.

Intervensi ini tidak selalu berada dalam praktik legal keperawatan bagi perawat untuk meresepkan atau menginstruksikan tindakan ini, tetapi intervensi tersebut berada dalam praktik keperawatan bagi perawat untuk menyelesaikan instruksi tersebut dan untuk mengkhususkan pendekatan tindakan.

Sebagai contoh, dokter menginstruksikan untuk mengganti balutan 2x sehari, medikasi intravena setiap 6 jam, dan pemindaian tulang untuk Tn. D. Perawat memadukan setiap instruksi ini kedalam rencana perawatan Tn. D sehingga instruksi ini diselesiakan secara aman dan efisien.

Setiap intervensi dokter membutuhkan tanggung jawab keperawatan spesifik dan pengetahuan keperawatan teknik spesifik. Ketika memberikan obat – obatan, perawat bertanggung jawab untuk mengetahui kalasifikasi dari obat, kerja fisiologisnya, dosis normal, efek samping, dan intervensi keperawatan yang berhubungan dengan kerja obat atau efek sampingnya. Intervensi keperawatan yang berkaitan dengan pemberian medikasi bergatung pada instruksi tertulis dokter.

  • Intervensi Kolaboratif

Intervensi kolaboratif adalah terapi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian dari berbagai profesional perawatan kesehatan.

Sebagai contoh, Tn. J adalah pria yang berusia 78 tahun yang mengalami hemiplegia akibat stroke dan juga mempunyai riwayat demensia lama. Fungsi kognitifnya terbatas, ia beresiko mengalami masalah yang berhubungan dengan kerusakan sensasi dan mobilitas, dan tidak mampu secara mandiri menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari – hari. Dengan tujuan agar Tn. J mempertahankan tingkat kesehatannya saat ini, ia membutuhkan intervensi keperawatan spesifik untuk mencegah luka dekubitus; intervensi terapi fisik untuk mencegah perubahan muskuloskeletal akibat imobilitas; dan intervensi terapi okupasi untuk makan dan kebutuhan higiene. Perawatan klien ini membutuhkan koordinasi intervensi kolaboratif dari berbagai profesional perawatan kesehatan yang semuanya diarahkan pada tujuan jangka panjang untuk mempertahankan tingkat kesehatan Tn. J saat ini.

Jadi, intervensi perawat, intervensi dokter, dan intervensi kolaboratif membutuhkan penilaian keperawatan yang kritis dan pembuatan keputusan. Ketika menghadapi intervensi dokter atau intervensi kolaboratif, perawat tidak secara otomatis mengimplementasikan terapi, tetapi harus menentukan apakah intervensi yang diminta sesuai untuk klien.

Menurut Carpenito dan Moyet (2007), ada dua tipe intervensi keperaawatan :

  1. Intervensi perawat, yaitu intervensi yang dibuat oleh perawat dan akan dilaksanakan oleh tim perawat lain.
  2. Intervensi medis / intervensi delegasi, yaitu intervensi yang dibuat oleh medis / perawat senior dan akan dilaksanakan oleh tim perawat lain. Intruksi dokter bukan merupakan intruksi untuk perawat, melainkan untuk klien yang akan dibantu oleh perawat jika ada indikasi.

Kedua intervensi tersebut merupakan pengambilan keputusan independen perawat secara legal. Sebenarnya kalau kita bicara profesi, ini disebutkan sebagai masalah bersama sehingga bukan disebut instruksi.

Sedangkan menurut Potter dan Perry (1997) ada tiga tipe intervensi keperawatan :

  1. Intervensi perawat adalah respons perawat terhadap kebutuhan klien terhadap perawatan kesehatan dan diagnosis keperawatan. Tindakan memiliki otonomi yang berdasarkan pada rasional ilmiah. Intervensi ini tidak membutuhkan intruksi dokter atau profesi.
  2. Mencegah timbulnya masalah.
  3. Memonitor kejadian.

 

  • Syarat intervensi

Berikut merupakan syarat dalam pembuatan intervensi :

  • Aman dan sesuai usia, kesehatan, dan kondisi individu.
  • Dapat dicapai dengan sumber yang tersedia.
  • Sesuai dengan nilai, kepercayaan, dan budaya klien.
  • Sesuai dengan terapi lain.
  • Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman keperawatan atau pengetahuan dari ilmu  pengetahuan yang relevan.
  • Memenuhi standar asuhan baku yang ditentukan oleh hukum negara  bagian, asosiasi profesional (American Nurses Association), dan kebijakan institusi.

 

  • Langkah – langkah intervensi

Berikut langkah – langkah dalam pembuatan intervensi :

  • Beri tanggal dan tanda tangan rencana.

Tanggal penulisan rencana penting untuk evaluasi, tinjauan dan rencana  yang akan datang. Tanda tangan perawat menunjukkan tanggung gugat terhadap pasien dan terhadap profesi keperawatan karena keefektifan tindakan keperawatan dapat dievaluasi.

  • Gunakan  judul katogori  “Intervensi Keperawatan” dan sertakan tanggal evaluasi pada tiap tujuan.
  • Gunakan simbol medis atau bahasa baku dan kata kunci, bukan kalimat lengkap untuk menyampaikan ide anda.

Misalnya, tulis “Ubah posisi dan perbaiki posisi q2h” bukan “Ubah posisi dan  perbaiki posisi pasien setiap 2 jam”.

  • Spesifik

Perawat kini bekerja dalam sif dengan lama waktu yang berbeda, sebagian bekerja dalam sif 12 jam dan dalam sif 8 jam,sehingga penting untuk menyebutkan dengan spesifik waktu intervensi diharapkan.

  • Rujuk ke buku prosedur atau sumber informasi lain, bukan mencantumkan semua langkah pada rencana tertulis.

Misalnya “Lihat buku prosedur unit untuk perawatan trakeostomi”.

  • Sesuaikan rencana dengan karakteristik unit pasien dengan memastikan bahwa pilihan pasien, seperti pilihan tentang waktu perawatan dan metode yang digunakan, dicantumkan.
  • Pastikan bahwa rencana keperawatan menggabungkan aspek pencegahan dan pemeliharaan kesehatan serta aspek pemulihan.
  • Pastikan bahwa rencana berisi intervensi untuk pengkajian pasien yang bersinambungan (Misal, inspeksi insisi q8h).
  • Sertakan aktivitas kolaboratif dan kordinasi dalam rencana.

Misalnya, perawat dapat menulis program untuk menanyakan ahli gizi atau ahli terapi fisik tentang aspek khusus perawatan pasien.

  • Sertakan rencana pemulangan pasien dan kebutuhan perawatan di rumah.

Perawat perlu melakukan konsultasi dan membuat pengaturan bersama perawatan komunitas, petugas dinas sosial, dan lembaga khusus yang menyediakan informasi dan peralatan yang diperlukan pasien.

 

  • Faktor – faktor intervensi

Demikian juga dalam tehnik penulisan rencana intervensi keperawatan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh perawat antara lain:

  • Kalimat yang ditulis harus berupa kalimat instruksi, berfungsi untuk menjelaskan tindakan yang akan dilakukan. Instruksi dibuat secara ringkas, tegas, tepat dan kalimat mudah dimengerti.
  • Dapat dijadikan alat komunikasi antar anggota keperawatan/ tim kesehatan lain untuk kesinambungan asuhan keperawatan yang akdiberikan kepada klien.
  • Memuat informasi yang selalu baru.
  • Didokumentasikan pada tempat / kolom yang ditentukan sebagai pertanggung-jawaban dan pertanggunggugatan perawat terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.

 

  • Hal – hal yang harus diperhatikan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan rencana intervensi keperawatan adalah:

  • Mengidentifikasi alternatif tindakan.
  • Menetapkan dan menguasai teknik serta prosedur keperawatan yang akan dilakukan.
  • Melibatkan klien dan keluarganya.
  • Melibatkan anggota tim kesehatan lainnya.
  • Mengetahui latar belakang budaya dan agama klien.
  • Mempertimbangkan lingkungan, sumber, dan fasilitas yang tersedia.
  • Memperhatikan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku. Harus dapat menjamin rasa aman klien.
  • Mengarah pada tujuan dan kriteria hasil yang akan dicapai.
  • Bersifat realistik dan rasional.
  • Rencana tindakan disusun secara berurutan sesuai prioritas.

 

 

BAB 3

KASUS

 

  • Kasus

Pasien A datang ke RS mengatakan bahwa sudah lima hari tidak bisa BAB. Pasien tersebut jarang minum dan makan sayur. TD 140 / 90 mmHg, suhu 38,7 °C, dan denyut nadinya 100 x / menit.

Intervensi        :

 

 

Hari /

Tanggal

No Dx Tujuan Intervensi TTD /

Nama

Selasa,

20 – 9 – 11

Tujuan: Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 1×24 jam. Diharapkan Pasien mampu BAB

Dengan normal

a.    –  Menganjurkan makan  makanan berserat.

b.     – Menganjurkan banyak minum air.

c.     – Kolaborasi pemberian analgetik.

d.    – Mengukur TTV.


BAB 4

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk membantu klien dalam beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat yang diinginkan dalam hasil yang diharapkan.

Terdapat tiga kategori intervensi keperawatan yaitu, intervensi yang diprakarsai oleh perawat, dokter, dan intervensi kolaboratif. Kategori pemilihan didasarkan pada kebutuhan klien. Satu klien mungkin membutuhkan semua dari ketiga kategori, sementara klien lainnya mungkin hanya membutuhkan intervensi yang diprakarsai oleh perawat dan dokter.

 

  • Saran

Untuk membuat perencanaan, anda harus belajar menentukan prioritas, merumuskan tujuan, dan membuat intervensi. Melalui perencanaan perawatan yang berkomitmen pada waktu, maka anda akan dapat memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan memiliki kemampuan menentukan validitas keputusan yang dibuat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC

Tersedia di

https://books.google.co.id/books?id=O3y5bNnwND0C&pg=PA177&dq=inter

vensi+keperawatan&hl=en&sa=X&ved=0CBwQ6AEwAGoVChMI8qOO2O

fxwIVRTSUCh34xQXF#v=onepage&q=intervensi%20keperawatan&f=false

diakses tanggal 10 Agustus 2015

 

 

Haryanto. 2007. Konsep Dasar Keperawatan dengan Pemetaan Konsep.        Jakarta :

Salemba medika

Tersedia di

https://books.google.co.id/books?id=g6SCcVhmbMkC&pg=PA76&dq=intervensi+kperawatan&hl=en&sa=X&ved=0CCEQ6AEwATgKahUKEwjB94vvZ7HAWCBo4KHVzPCyM#v=onepage&q=intervensi%20keperawatan&f=false diakses tanggal 10 Agustus 2015.

 

http://lindanurcahyani.blogspot.com/2012/11/intervensi-keperawatan.html diakses

tanggal 10 Agustus 2015.

Makalah Gizi Diet Pada Gagal Ginjal

BAB 1
PENDAHULUAN

 

 

 

 

  1. Latar Belakang

Ginjal adalah organ vital manusia yang berfungsi mengatur volume dan komposisi cairan tubuh dan juga sebagai alat pembuangan sisa metabolisme dalam tubuh sehingga PH darah tetap stabil.

Penyakit pada ginjal seperti : batu ginjal,sindroma nefrotik, glomerulonefritis akut, gagal ginjal akut, gagal ginjal akut infeksi ginjal,dan peradangan ginjal. Yang dewasa ini marak menjadi topik pembicaraan masyarakan karena jumlahnya yang terus meningkat sehingga perlu perhatian dan pengetahuan informasi tentang pentingnya asupan cairan bagi orang yang belum terjangkit penyakit ini dan diit yang tepat bagi orang yang sudah terjangkit penyakit ini.

Dari latar belakang di atas, makalah yang berjudul Diit Pada Gagal Ginjal ini dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan baik pada orang yang belum terkena penyakit ginjal maupun orang yang sudah terkena penyakit ginjal yang akan lebih jelasnya akan dibicarakan pada bab selanjutnya.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud gagal ginjal?
  3. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya diit pada orang yang menderita penyakit ginjal.
  4. Meningkatnya jumlah penderita penyakit ginjal dari tahun ketahun.
  5. Akses yang terbatas bagi orang yang menderita penyakit ginjal untuk mendapatkan informasi tentang diit tersebut.
  6. Lingkungan yang tidak mendukung bagi penderita penyakit ginjal untuk berperilaku agar penyakitnya menjadi lebih baik.

 

 

  1. Tujuan Penulisan
  2. Mengetahui diet pada penderita penyakit ginjal.
  3. Makan pentingnya diet pada penderita penyakit ginjal.
  4. Meminimalkan jumlah penderita penyakit ginjal.
  5. Mendapatkan informasi tentang diet pada penyakit ginjal.
  6. Mendapatkan informasi agar penderita penyakit ginjal lebih menjaga kesehatan dan berperilaku agar penyakitnya lebih baik.

 


 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Gagal Ginjal

Gagal ginjal kronis adalah penyakit ginjal yang tidak dapat pulih, ditandai dengan penurunan fungsi ginjal progresif, mengarah pada penyakit ginjal tahap akhir dan kematian (Susan Martin Tucker, 1998).

Gagal ginjal kronis adalah pelan dan biasanya ditandai dengan hilangnya fungsi yang terjadi dalam periode bulan atau tahun dan menjadi irreversible. (Joan Luckman, 1997)

Gagal ginjal kronis adalah kemunduran fungsi ginjal yang progresif dan tak reversible yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit. (Stein, 2001 : hal.180).

Pada gangguan fungsi ginjal terjadi usaha-usaha untuk mengkompensasi kekurangan ini, yang di tandai dengan hiperfiltrasi, hipertensi, yang kemudian dapat menyebabkan kerusakan pada glomerulus, dan pada akhirnya terjadi gagal ginjal terminal.

 

  1. Penyebab Gagal Ginjal

Ada tiga penyebab gagal ginjal , yaitu:

  1. Prerenal:
  2. Hipovolemia (luka bakar, diare dengan dehidrasi berat, gagal jantung, perdarahan karena trauma bedah atau obstetri dan ketoasidosis diabetik)
  3. Hipotensi atau hipoperkusi (syok karena sepsis, kardiogenik, dan anafilaktik, operasi jantung, sindroma nefrotik berat, sirosis hepatik, dan sidroma hepatorenal)
  4. Renal
  5. Semua kelainan renal (GNA, sindroma uremik hemolitik, vaskulitis sistemuk, nefritis interstisial akut, obstruksi tubular dan nekrosis tubular akut)
  6. Nefrotoksin (obat – obatan, antara lain : amino glikosit sefalosporin, ampoterisin B; agen radio kontras, logam berat, bahan organik dan mioglobin pada crush sindrome)
  7. Kelainan pembuluh darah (trombosis atau emboli arteri renalis, vena renalis, dan oleh karena obat indometasin).
  8. Kelainan post renal yang menimbulkan iskemi ginjal.
  9. Post renal
  10. Obstruksi ureter(kalkuli, bekuan, tumor, kelainan kongenital antara lain: ureteropelvic junction dan ureterovesical junction).
  11. Obstruksi uretra (pada klep uretra posterior, adanya divertikulum, striktur, uretrokel, hidrokolpos dan tumor).

 

  1. Diet Pada Penderia Gagal Ginjal

Diit Retriksi Protein (DRP) merupakan diit yang bisa digunakan bagi penderita gagal ginjal yang dapat memperlambat kemunduran fungsi ginjal pada penderita – penderita yang sudah mengalami gangguan ginjal. Hal ini sangat diperhatikan karena dapat memperlambat penderita masuk kedalam tahap Gagal Ginjal Terminal (GGT).

Konsep dasar diit rendah protein adalah memberikan protein dalam jumlah terbatas bersana dengan jumlah energy yang cukup.

Dalam DRP ini ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian :

  • Protein yang diberikan tidak boleh terlalu kurang atau terlalu tinggi. Hal ini dapat dinilai antara lain dengan pengukuran asupan nitrogen agar stabil keadaannya, terdapat korelasi antara rasio ureum/kreatinin serum dengan asupan nitrogen. Walaupun cara ini cukup akurat dan mudah ada beberapa keadaan yang membuat kesalahan perhitungan yaitu antara lain pada keadaan katabolic, dieresis kurang dari 1500 ml (produksi ureum meninggi.
  • Harus diperhatikan kecukupan kalori, zat-zat nutrisi lainnya agar tidak mengganggu metabolism aktivitas atau pertumbuhan. Penurunan berat badan, atau bahkan malnutrisi yang dapat terjadi karena dit ini harus dicegah. Sering di perlukan penambahan vitamin
  • Diet harus dapat diterima atau disesuaikan dengan selera penderita.

 

  1. TUJUAN DIET
  2. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan faal ginjal.
  3. Menurunkan kadar ureum dan creatinine darah.
  4. Mencegah/mengurangi retensi garam/air di dalam tubuh.
  5. SYARAT DIET
  6. Banyak protein disesuaikan dengan keadaan faal ginjal. Ini dapat diketahui dari ”nilai uji penjernihan creatinine” (Creatinine clearance test = CCT atau GFR)
  7. Lemak terbatas diutamakan penggunaan lemak tak jenuh
  8. Kalium dibatasi pada kegagalan faal ginjal glomerulus, bila jumlah urin kurang dari 400 ml/hari.
  9. Natrium diabatasi pada gegalan faal ginjal dengan hipertensi berat, hiperkalemia, udema, uliguria/anuria.
  10. Kalori adekuat, agar protein tubuh tidak dipecah untuk energi.
  11. Banyak cairan adalah banyak urin maksimal sehari ditambah banyak cairan yang keluar melalui keringat dan pernapasan (+ 500 ml/hari)

 

  1. MACAM DIIT DAN INDIKASI PEMBERIAN

Menurut keadaan penderita dan berat penyakit dapat diberikan :

-Diit terendah protein I : 20 g protein

Bentuk makanan tergantung pada keadaan penderita dapat cair, saring atau lunak, makanan ini kurang dalam kalori, protein, kalsium, besi dan thiamin. Diit diberikan selama beberapa hari saja sementara menunggu tindakan yang lebih tepat misalnya dialisa.

-Diit rendah protein II : 40 g protein

Bentuk makanan lunak/biasa, makanan cukup kalori dan semua zat gizi kecuali protein dan thiamin.

– Diit protein sedang : 60 g protein.

Makanan diberikan dalam bentuk lunak/biasa makanan cukup kalori dan semua zat-zat gizi pada penderita yang mengalami dialisa.

Disamping ketiga macam diit diatas dapat pula diberikan diit rendah protein dengan 30g protein dan diit protein sedang 50g protein.

 

  1. ANJURAN MAKANAN PENDERITA GAGAL GINJAL
  2. Diit Rendah Protein I
  • Bubur Maezena
  • Susu
  • Bubur / nasi tim
  • Telur Ceplok saus tomat
  • Tumis sayuran papaya
  • Sup sayuran.
  • Pisang
  • Teh manis
  • Pukul 10.00, pukul 16.00 dan pukul 20.00
  • Kue talam
  • Teh manis ager nenas
  • Teh manis sirup
  1. Diit Rendah Protein II dan Protein sedang
  • Pagi, Siang, Sore
  • Nasi tim
  • Telur ceplok
  • Tumis labu siam
  • Susu Nasi tim
  • Ikan panggang saos tomat
  • Ca sayur
  • Pepaya
  • Teh manis Nasi tim
  • Daging bistik
  • Sup sayuran
  • Pisang
  • Teh manis
  • Pukul 10.00, 16.00 dan pukul 20.00
  • Kue talam
  • Teh manis ager nenas
  • Teh manis pisang susu

 

  1. TABEL KEBUTUHAN KALORI DAN PROTEIN YANG DIANJURKAN
Umur dan jenis kelamin Berat

(kg)

Kalori

(kkal)

Protein

GFR:10-20

 

5-10

 

<5

 

Pria dan Wanita di bawah 1 tahun :

0-2 bulan 4 120 1,7 1,5 1,3
2-6 bulan 7 110 1,6 1,4 1,2
6-12 bulan 9 100 1,4 1,2 1,0

 

 

Pria dan Wanita lebih dari 1 tahun :

1-2 12 91 1,6 1,4 1,2
2-3 14 85 1,3 1,1 1,0
3-4 16 87 1,4 1,2 1,1
4-6 19 84 1,2 1,0 0,9
6-8 23 86 1,2 1,0 0,9
8-10 28 78 1,1 0,9 0,8

 

Umur lebih dari 10 tahun

Pria :

10-12 35 71 1,0 0,9 0,7
12-14 43 62 0,8 0,7 0,6
14-18 59 50 0,8 0,7 0,6

Wanita :

10-12 35 64 1,1 0,9 0,7
12-14 44 52 0,9 0,7 0,6
14-16 52 46 0,8 0,7 0,6
16-18 54 42 0,8 0,7 0,6

 

 


 

BAB 3
PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari permasalahan yang kami bahas mengenai “ diit pada penyakit ginjal”, maka penulis simpulkan sebagai berikut :

  1. Gagal Ginjal adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit. yang ditandai dengan usaha kompensasi seperti hiperfiltrasi, hipertensi, hiperperfusi, yang kemudian dapat menyebabkan Diit rendah kalsium tinggi sisa asam

Diberikan pada penderita dengan batu kalsium, seperti kalsium pospat, kalsium karbonat dan kalsium oksalat.

Makanan ini cukup kalori, protein, besi, vitamin A, tiamin dan vitamin C. kerusakan pada glomerulus, dan pada akhirnya terjadi gagal ginjal terminal.

  1. Penyebab gagal ginjal ada 3 yang meliputi: prerenal, renal, dan postrenal.
  2. Diit gagal ginjal dapat dilakukan dengan Diit Retriksi Protein (DRP), misalnya dengan pemberian Protein 0,55 – 0,60 gram/kg dengan protein nilai biologik tinggi, atau 0,4 g/kg pada gangguan ginjal yang lebih berat, dengan kalori 35 Kkal/kg.

 

  1. SARAN
  2. Berharap agar mahasiswa lebih memahami tentang penyakit gagal ginjal
  3. Bisa memberi pemahaman untuk mahasiswa
  4. Dan terakhir, makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu agar pembaca senantiasa memberikan kritik dan saran kepada kami.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC

Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Supartondo. ( 2001 ). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta : Balai Penerbit FKUI

 

Singer From India Plagiarism Girls’ Generation(SNSD)

Ehmm… mungkin akhir-akhir ini lagu Ring Diamond Di yang dinyanyikan oleh Akriti Kakkar dan Santokh Singh ini menarik perhatian penggemar K-Pop.

Walau sudah rilis Juni lalu, namun MV Ring Diamond Ring ini belakangan dapat respon negatif dari K-Pop Lovers. Hal itu karena mereka melihat beberapa adegan hingga latar belakang video musik tersebut mirip sekali dengan The Boys SNSD 2012 dilansir dari Allkpop.

Tak hanya The Boys, ada pula bagian yang juga dinilai mirip banget dengan MV I Got A Boy dan tidak tanggung-tanggung, costum yang di kenakan juga sama dengan penampilan Girls Generation saat live Tell Me Your Wish/Genie . Check this Out :

cats

 

cats1

Beberapa bukti yang dinilai MV Ring Diamond Ri mirip dengan The Boys serta I Got A Boy SNSD. ©Allkpop.com

Hal ini baru jadi bahasan panas karena bertepatan dengan comeback Girls Generation musim panas ini. Sedangkan, Akriti Kakkar merupakan seorang penyanyi solo asal India yang telah berkarir di dunia tarik suara sejak tahun 2004 silam.

Dalam kolom komentar MV Ring Diamond Ring kalian juga bisa melihat beberapa tanggapan dari para penggemar K-Pop. Mereka juga merasakan adanya kemiripan video musik tersebut dengan SNSD.

 

cr : kapanlagi.com

Makalah Farmakologi tentang Prinsip Pemberian Obat

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah member obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya. Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Oleh karena itu, pada makalah ini akan di bahas salah satu rute pemberian obat, yaitu rute pemberian obat secara PARENTERAL, memberikan obat pada pasien dengan menginjeksinya ke dalam tubuh.

2.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan pemberian obat parenteral?
1.2.2 Bagaimana proses pemberian obat?
1.2.3 Apa indikasi dan kontra indikasi dari proses pemberian obat?
1.2.4 Apa saja yang harus diperhatikan dalam proses pemberian obat?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti proses pembelajaran diharapkan dapat memahami tentang proses pemberian obat dengan benar.
1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses pebelajaran diharapkan :
1) Menjelaskan bagaimana harua melakukan persiapan pemberian obat parenteral.
2) Menjelaskan macam-macam cara pemberian obat
3) Menjelaskan indikasi dan kontra indikasi
4) Menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dan cara pemberiannya.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Pemberian Obat Secara Parenteral
Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat melalui injeksi atau infuse. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra Spinal (IS), Intra Muskular (IM), Subcutaneus (SC), dan Intra Cutaneus (IC). Obat yang diberikan secara parenteral akan di absorbs lebih banyak dan bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan obat yang diberikan secara topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa pemberian obat parenteral dapat menyebabkan resiko infeksi.
Resiko infeksi dapat terjadi bila perawat tidak memperhatikan dan melakukan tekhnik aseptic dan antiseptic pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian obat parenteral, obat diinjeksikan melalui kulit menembus system pertahanan kulit. Komplikasi yang seringv terjadi adalah bila pH osmolalitas dan kepekatan cairan obat yang diinjeksikan tidak sesuai dengan tempat penusukan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar tempat injeksi. Pada umumnya pemberian obat secara parenteral di bagi menjadi 4, yaitu :
1) Pemberian Obat Via Jaringan Intra Kutan
2) Pemberian Obat Via Jaringan Subkutan
3) Pemberian Obat Via Intra Vena : Intra Vena Langsung dan tak langsung
4) Pemberian Obat Via Intramuskular

2.2 Pemberian Obat Via Jaringan Intra Kutan
2.2.1 Pengertian Intra Kutan
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit. Intra kutan biasanya di gunakan untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat yang disuntikkan.
2.2.2 Tujuan
Pemberian obat intra kutan bertujuan untuk melakukan skintest atau tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intra kutan ini dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.

2.2.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
• Tempat injeksi
• Jenis spuit dan jarum yang digunakan
• Infeksi yang mungkin terjadi selama infeksi
• Kondisi atau penyakit klien
• Pasien yang benar
• Obat yang benar
• Dosis yang benar
• Cara atau rute pemberian obat yang benar
• Waktu yang benar

2.2.4 Indikasi dan Kontra Indikasi
• Indikasi : bisa dilkakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, tidak alergi. Lokasinya yang ideal adalah lengan bawah dalam dan pungguang bagian atas.
• Kontra Indikasi : luka, berbulu, alergi, infeksi kulit

2.2.5 Alat dan Bahan
• Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.
• Obat dalam tempatnya
• Spuit 1 cc/spuit insulin
• Cairan pelarut
• Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit)
• Bengkok
• Perlak dan alasnya.

2.2.6 Prosedur Kerja
• Cuci tangan
• Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
• Bebaskan daerha yang akan disuntik, bila menggunakan baju lengan panjang terbuka dan keatasan
• Pasang perlak/pengalas di bawah bagian yang akan disuntik
• Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan aquades. Kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc dan siapkan pada bak injeksi atau steril.
• Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan.
• Tegangkan dengan tangan kiri daerah yang akan disuntik.
• Lakukan penusukan dengan lubang jarum suntik menghadap ke atas dengan sudut 15-20
• derajat di permukaan kulit.
• Suntikkkan sampai terjadi gelembung. Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.
• Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/tes obat, waktu, tanggal dan jenis obat.

Daerah Penyuntikan :
o Dilengan bawah : bagian depan lengan bawah 1/3 dari lekukan siku atau 2/3 dari pergelangan tangan pada kulit yang sehat, jauh dari PD.
o Di lengan atas : 3 jari di bawah sendi bahu, di tengah daerah muskulus deltoideus.

2.3 Pemberian Obat Via Jaringan SubKutan
2.3.1 Pengertian Subkutan
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan bagian atas sebelah luar atau sepertiga bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada dan sekitar umbilicus (abdomen) .

2.3.2 Tujuan
Pemberian obat melalui jaringan sub kutan ini pada umumnya dilakukan dengan program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan yaitu jernih dan keruh karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe lambat

2.3.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
• Tempat injeksi
• Jenis spuit dan jarum yang digunakan
• Infeksi yang mungkin terjadi selama infeksi
• Kondisi atau penyakit klien
• Pasien yang benar
• Obat yang benar
• Dosis yang benar
• Cara atau rute pemberian obat yang benar
• Waktu yang benar

2.3.4 Indikasi dan kontra indikasi.
• Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama, karena tidak memungkinkan diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya, obat dosis kecil yang larut dalam air.
• Kontra indikasi : obat yang merangsang, obat dalam dosis besar dan tidak larut dalam air atau minyak.

2.3.5 Alat dan Bahan
• Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
• Obat dalam tempatnya.
• Spuit insulin.
• Kapas alcohol dalam tempatnya.
• Cairan pelarut.
• Bak injeksi.
• Bengkok perlak dan alasnya.

2.3.6 Prosedur kerja.
• Cuci tangan.
• Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
• Bebaskan daerah yang akan disuntik atau bebaskan suntikan dari pakaian. Apabila menggunakan pakaian, maka buka pakaian dan di keataskan.
• Ambil obat dalam tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan. Setelah itu tempatkan pada bak injeksi.
• Desinfeksi dengan kapas alcohol.
• Regangkan dengan tangan kiri (daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan).
• Lakukan penusukan dengan lubang jarum menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat dari permukaan kulit.
• Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah, suntikkan secara perlahan-lahan hingga habis.
• Tarik spuit dan tahan dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan ke dalam bengkok.
• Catat hasil pemberian, tanggal, waktu pemberian, dan jenis serta dosis obat.
• Cuci tangan.

Daerah Penyuntikan :
o Otot Bokong (musculus gluteus maximus) kanan & kiri ; yang tepat adalah 1/3 bagian dari Spina Iliaca Anterior Superior ke tulang ekor (os coxygeus).
o Otot paha bagian luar (muskulus quadriceps femoris).
o Otot pangkal lengan (muskulus deltoideus).
2.4 Pemberian Obat Via Intra Vena
2.4.1 Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena langsung.
1) Pengertian
Cara memberikan obat pada vena secara langsung. Diantaranya vena mediana kubiti/vena cephalika (lengan), vena sephanous (tungkai), vena jugularis (leher), vena frontalis/temporalis (kepala).

2) Tujuan
Pemberian obat intra vena secara langsung bertujuan agar obat dapat bereaksi langsung dan masuk ke dalam pembuluh darah.

3) Hal-hal yang diperhatikan
• Setiap injeksi intra vena dilakukan amat perlahan antara 50 sampai 70 detik lamanya.
• Tempat injeksi harus tepat kena pada daerha vena.
• Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
• Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
• Kondisi atau penyakit klien.
• Obat yang baik dan benar.
• Pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat dan benar.
• Dosis yang diberikan harus tepat dan harus benar.
• Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi.

4) Indikasi dan kontra indikasi
• Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.
• kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

5) Alat dan Bahan.
• daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
• Obat dalam tempatnya.
• Spuit sesuai dengan jenis ukuran
• Kapas alcohol dalam tempatnya.
• Cairan pelarut (aquades).
• Bak injeksi.
• Bengkok.
• Perlak dan alasnya.
• Karen pembendung.

6) Prosedur kerja
• cuci tangan.
• Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
• Bebaskan daerah yang akan disuntik dengan cara membebaskan pakaian pada daerah penyuntikan, apabila tertutup, buka dan ke ataskan.
• Ambil obat pada tempatnya sesuai dosi yang telah ditentukan. Apabila obat dalam bentuk sediaan bubuk, maka larutkan dengan aquades steril.
• Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan injeksi.
• Tempatkan obat yang telah di ambil ke dalam bak injeksi.
• Desinfeksi dengan kapas alcohol.
• Lakukan pengikatan dengan karet pembendung pada bagian atas daerah yang akan dilakukakn pemberian obat atau minta bantuan untuk membendung daerah yang akan dilakukan penyuntikan dan lakukan penekanan.
• Ambil spuit yang berisi obat.
• Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah.
• Lakukan aspirasi, bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan hingga habis.
• Setelah selesai ambil spuit dengan menarik secara perlahan-lahan dan lakukan masase pada daerah penusukan dengan kapas alcohol, spuit yang telah digunakan di masukkan ke dalam bengkok.
• Catat hasil pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
• Cuci tangan.

2.4.2 Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena Secara tidak Langsun.
1) Pengertian
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intra vena.

2) Tujuan
Pemberian obat intra vena secara tidak langsung bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah.

3) Hal-hal yang perlu diperhatikan
• injeksi intra vena secara tidak langsung hanya dengan memasukkan cairan obat ke dalam botol infuse yang telah di pasang sebelumnya dengan hati-hati.
• Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
• Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
• Obat yang baik dan benar.
• Pasien yang akan di berikan injeksi tidak langsung adalah pasien yang tepat dan benar.
• Dosis yang diberikan harus tepat, tidak langsung harus tepat dan benar.
• Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi.

4) Indikasi dan kontra indikasi
• Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.
• kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

5) Alat dan Bahan
• Spuit dan jarum sesuai ukuran
• Obat dalam tempatnya.
• Wadah cairan (kantung/botol).
• Kapas alcohol dalam tempatnya.

6) Prosedur kerja
• cuci tangan.
• Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
• Periksa identitas pasien dan ambil obat dan masukkan ke dalam spuit.
• Cari tempat penyuntikan obat pada daerah kantung. Alangkah baiknya penyuntikan pada kantung infuse ini dilakukan pada bagian atas kantung/botol infuse.
• Lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol pada kantung/botol dan kunci aliran infuse.
• Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat secara perlahan-lahan ke dalam kantong/botol infuse/cairan.
• Setelah selesai, tarik spuit dan campur larutan dengan membalikkan kantung cairan dengan perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung yang lain.
• Ganti wadah atau botol infuse dengan cairan yang sudah di injeksikan obat di dalamnya. Kemudian gantungkan pada tiang infuse.
• Periksa kecepatan infuse.
• Cuci tangan.
• Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu dan dosis pemberian.

Daerah Penyuntikan :
o Pada Lengan (v. mediana cubiti / v. cephalika)
o Pada Tungkai (v. Spahenous)
o Pada Leher (v. Jugularis)
o Pada Kepala (v. Frontalis atau v. Temporalis) khusus pada anak – anak


2.5 Pemberian Obat Via Intra Muskular
2.5.1 Pengertian
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat dilakukan pada daerah paha (vastus lateralis) dengan posisi ventrogluteal (posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid).

2.5.2 Tujuan
Agar obat di absorbs tubuh dengan cepat.

2.5.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan
• Tempat injeksi.
• Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
• Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
• Kondisi atau penyakit klien.
• Obat yang tepat dan benar.
• Dosis yang diberikan harus tepat.
• Pasien yang tepat.
• Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar.

2.5.4 Indikasi dan kontra indikasi
• Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya.
• kontra indikasi : Infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saraf besar di bawahnya.

2.5.5 Alat dan bahan
• Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
• Obat dalam tempatnya.
• Spuit da jarum suntik sesuai dengan ukuran. Untuk dewasa panjangnya 2,5-3 cm, untuk anak-anak panjangnya 1,25-2,5 cm.
• Kapas alcohol dalam tempatnya.
• Cairan pelarut.
• Bak injeksi.
• Bengkok.

2.5.6 Prosedur kerja
• cuci tangan.
• Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
• Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu letakkan dalam bak injeksi.
• Periksa tempat yang akan di lakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan).
• Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.
• Lakukan penyuntikan : Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara, anjurkan pasien untuk berbaring telentang dengan lutut sedikit fleksi.
Pada ventrogluteal dengan cara, anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fleksi. cara, anjurkan pasien untuk tengkurapPada daerah dorsogluteal dengan dengan lutut di putar kea rah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan diletakkan di depan tungkai bawah. cara, anjurkanPada daerah deltoid (lengan atas) dilakukan dengan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.
• Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
• Setelah jarum masuk, lakukan aspirasi spuit, bila tidak ada darah yang tertarik dalam spuit, maka tekanlah spuit hingga obat masuk secara perlahan-lahan hingga habis.

• Setelah selesai, tarik spuit dan tekan sambuil di masase daerah penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian spuit yang telah di gunakan letakkan dalam bengkok.
• Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
• Cuci tangan

Daerah Penyuntikan :
o Bagian lateral bokong (vastus lateralis)
o Butoks (bagian lateral gluteus maksimus)
o Lengan atas (deltpid)


BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Obat dapat diberikan dengan berbagai cara disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya : sub kutan, intra kutan, intra muscular, dan intra vena. Dalam pemberian obat ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan kontra indikasi pemberian obat. Sebab ada jenis-jensi obat tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan cara yang salah.

3.2 Saran
Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah menggunakannya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya bias fatal. Oleh karena itu, kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

L, Kee Joyce & R, Hayes evelyn ; farmakologi Pendekatan proses Keperawatan, 1996 ; EGC; Jakarta.
Priharjo, Robert; Tekhnik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, 1995; EGC; Jakarta. Aziz, Azimul; Kebutuhan dasar manusia II.
Bouwhuizen, M; Ilmu Keperawatan Bagian 1; 1986; EGC; Jakarta.

Makalah Kebutuhan Dasar Manusia (KDM)

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tubuh memerlukan energi untuk fungsi-fungsi organ tubuh, pergerakan tubuh, mempertahankan suhu, fungsi enzim, pertumbuhan dan pergantian sel yang rusak. Metabolisme merupakan semua proses biokimia pada sel tubuh. Proses metabolisme dapat berupa anabolisme (membangun) dan katabolisme (pemecah).
Masalah nutrisi erat kaitannya dengan intake makanan dan metabolisme tubuh serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara umm faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi adalah faktor fisiologis untu kebutuhan metabolisme bassal, faktor patologis seperti adanya penyakit tertentu yang menganggu pencernaan atau meningkatkan kebutuhn nutrisi, faktor sosio-ekonomi seperti adanya kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi.
Nutrisi sangat penting bagi manusia karena nutrisi merupakan kebutuhan fital bagi semua makhluk hidup, mengkonsumsi nutrien (zat gizi) yang buruk bagi tubuh tiga kali sehari selama puluhan tahun akan menjadi racun yang menyebabkan penyakit dikemudian hari
Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi ada sistem yang berperan di dalamnya yaitu sistem pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ asesoris, saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai usu halus bagian distal. Sedangkan organ asesoris terdiri dari hati, kantong empedu dan pankreas.
Nutrisi sangat bermanfaat bagi tubuh kita karena apabila tidak ada nutrisi maka tidak ada gizi dalam tubuh kita. Sehingga bisa menyebabkan penyakit / terkena gizi buruk oleh karena itu kita harus memperbanyak nutrisi.
1.2 TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan umum
Untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Keperawatan6 Dasar
2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi nutrisi
2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi pencernaan
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi
4. Untuk mengetahui masalah yang timbul dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
5. Untuk mengetahui prosedur tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi
– Pemasangan NGT dewasa
– Pemasangan NGT bayi
– Pemberian nutrisi secara oral]
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu pengertian nutrisi?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi?
3. Masalah apa saja yang timbul dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi?
4. Bagaimana prosedur tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi?
5. Keseimbangan energi dan metabolisme basal (BMR)

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000).
Menurut Rock CL (2004), nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.
Sedangkan menurut Supariasa (2001), nutrisi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses degesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energy.
Nutrien adalah zat kimia organik dan anorganik yang ditemukan dalam makanan dan diperoleh untuk penggunaan fungsi tubuh. Nutrient terdiri dari beberapa , diantarannya :
1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah komposisi yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen dan oksigen. Karbohidrat dibagi atas :
• Karbohidrat sederhana (gula) ; bisa berupa monosakarida (molekul tunggal yang terdiri dari glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Juga bisa berupa disakarida (molekul ganda), contoh sukrosa (glukosa + fruktosa), maltosa (glukosa + glukosa), laktosa (glukosa + galaktosa).
• Karbohidrat kompleks (amilum) adalah polisakarida karena disusun banyak molekul glukosa.
• Serat adalah jenis karbohidrat yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, tidak dapat dicerna oleh tubuh dengan sedikit atau tidak menghasilkan kalori tetapi dapat meningkatkan volume feces.
Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Kebutuhan karbohidrat 60-75% dari kebutuhan energi total.
1. Protein
Protein sangat penting untuk pembentukan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Beberapa sumber protein berkualitas tinggi adalah: ayam, ikan, daging, babi, domba, kalkun, dan hati. Beberapa sumber protein nabati adalah: kelompok kacang polong (misalnya buncis, kapri, dan kedelai), kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Protein merupakan konstituen penting pada semua sel, jenis nutrien ini berupa struktur nutrien kompleks yang terdiri dari asam-asam amino. Protein akan dihidrolisis oleh enzim-enzim proteolitik. Untuk melepaskan asam-asam amino yang kemudian akan diserap oleh usus. Fungsi protein :
• Protein menggantikan protein yang hilang selama proses metabolisme yang normal dan proses pengausan yang normal.
• Protein menghasilkan jaringan baru.
• Protein diperlukan dalam pembuatan protein-protein yang baru dengan fungsi khusus dalam tubuh yaitu enzim, hormon dan haemoglobin.
• Protein sebagai sumber energi.
Kebutuhan protein 10-15% atau 0,8-1,0 g/kg BB dari kebutuhan energi total.
1. Lemak
Lemak merupakan sumber energi yang dipadatkan. Lemak dan minyak terdiri atas gabungan gliserol dengan asam-asam lemak. Kebutuhan lemak 10-25% dari kebutuhan energi total. Fungsi lemak :
• Sebagai sumber energi ; merupakan sumber energi yang dipadatkan dengan memberikan 9 kal/gr.
• Ikut serta membangun jaringan tubuh.
• Perlindungan.
• Penyekatan/isolasi, lemak akan mencegah kehilangan panas dari tubuh.
• Perasaan kenyang, lemak dapat menunda waktu pengosongan lambung dan mencegah timbul rasa lapar kembali segera setelah makan.
1. Vitamin
Vitamin adalah bahan organic yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh dan berfungsi sebagai katalisator proses metabolisme tubuh.
Vitamin dibagi dalam dua kelas besar yaitu vitamin larut dalam air (vitamin C, B1, B2, B6, B12) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K).Berikut ini rincian dari beberapa vitamin dan penting:
a) Vitamin A
Vitamin ini membantu perkembangan daya lihat bayi. Juga berperan dalam proses kerja sel tulang. Anak-anak yang kekurangan vitamin A akan menderita rabun senja serta gangguan pertumbuhan. Mereka juga rentan terhadap infeksi. Sumber vitamin A antara lain: telur, keju, dan hati.
b) Vitamin B-kompleks
Semua vitamin B membantu produksi energi, dan membantu terbentuknya sel-sel otak bayi. Vitamin B1 dan niasin (salah satu anggota B-kompleks) membantu sel tubuh menghasilkan energi. Vitamin B6 membantu tubuh melawan penyakit dan infeksi. B12 digunakan dalam pembentukan sel darah merah. Kecukupan vitamin B-kompleks membantu mencegah kelambatan pertumbuhan, anemia, gangguan penglihatan, kerusakan syaraf, dan gangguan jantung. Makanan seperti misalnya roti, padi-padian, dan hati banyak mengandung vitamin B-kompleks. Setiap anggota vitamin B-kompleks bersumber dari makanan tertentu misalnya: B1 dari kacang buncis dan daging babi; B12 dari daging, ikan, telur, dan susu.
c) Vitamin C
Anak-anak dapat memperoleh vitamin C dari jeruk dan berbagai sayuran. Mereka memerlukan vitamin C untuk membentuk beberapa zat kimia dan menggerakkan zat kimia lain (salah satu anggota grup vitamin B, misalnya) agar dapat digunakan tubuh. Vitamin C juga membantu penyerapan zat besi. Mereka yang kekurangan vitamin C bisa menderita kelemahan tulang, anemia, dan gangguan kesehatan lainnya.
d) Vitamin D
Sinar matahari membantu tubuh membuat sendiri vitamin D, bahkan pada sejumlah anak, kebutuhan vitamin ini sudah terpenuhi dengan bantuan sinar matahari. Vitamin D sangat penting karena membantu kalsium masuk ke tulang. Inilah sebabnya mengapa vitamin D kadang ditambahkan ke dalam susu sapi (disebut susu yang telah “diperkaya”). Sayangnya, banyak produk susu olahan yang digemari anak-anak justru tidak diperkaya dengan vitamin D. Keju dan yogurt kaya kalsium tetapi tidak mengandung vitamin D. Makanan yang diperkaya vitamin D lebih baik daripada suplemen vitamin. Anak-anak yang mengkonsumsi diet rendah vitamin D bisa menderita ricketsia, suatu penyakit yang melemahkan tulang atau menjadikan tulang cacat.
1. Mineral dan Air
Mineral merupakan unsure esensial bagi fungsi normal sebagian enzim, dan sangat penting dalam pengendalian system cairan tubuh. Mineral merupakan konstituen esensial pada jaringan lunak, cairan dan rangka. Rangka mengandung sebagian besar mineral. Tubuh tidak dapat mensintesis sehingga harus disediakan lewat makanan. Tiga fungsi mineral :
• Konstituen tulang dan gigi ; contoh : calsium, magnesium, fosfor.
• Pembentukan garam-garam yang larut dan mengendalikan komposisi cairan tubuh ; contoh Na, Cl (ekstraseluler), K, Mg, P (intraseluler).
• Bahan dasar enzim dan protein.
• Kira-kira 6% tubuh manusia dewasa terbuat dari mineral.
• Air merupakan zat makanan paling mendasar yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Tubuh manusia terdiri dari atas 50%-70% air. Pada orang dewasa asupan air berkisar antara 1200-1500cc per hari, namun dianjurkan sebanyak 1900 cc sebagai batas optimum
2.2 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMENUHAN NUTRISI

1. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan bergizi dapat mempengaruhi pola konsumsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi sehingga dapat terjadi kesalahan.
2. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi dapat mempengaruhi gizi seseorang .
3. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan tertentu dapat mempengaruhi status gizi.
4. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan kurangnya variasi makanan, sehingga tubuh tidak memperoleh zat-zat yang dibutuhkan secara cukup.
5. Ekonomi
Status ekonomi dapat mempengaruhi perubahan status gizi karena penyediaan makanan bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit, oleh karena itu, masyarakat dengan kondisi perekonomian yang tinggi biasanya mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya di bandingkan masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah.

6. Usia
Pada usia 0-10 tahun kebutuhan metabolisme basa bertambah dengan cepat hal ini sehubungan dengan factor pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada usia tersebut. Setelah usia 20 tahun energy basal relative konstan.
7. Jenis kelamin
Kebutuhan metabolisme basal pada laki-laki lebih besar di bandingkan dengan wanita pada laki-laki kebutuhan BMR 1,0 kkal/kg BB/jam dan pada wanita 0,9 kkal/kgBB/jam.
8. Tinggi dan berat badan
Tinggi dan berat badan berpengaruh terhadap luas permukaan tubuh, semakin luas permukaan tubuh maka semakin besar pengeluaran panas sehingga kebutuhan metabolisme basal tubuh juga menjadi lebih besar.
9. Status kesehatan
Nafsu makan yang baik adalah tanda yang sehat . Anoreksia (kurang nafsu makan) biasanya gejala penyakit atau karena efek samping obat.
10. Faktor Psikologis serti stress dan ketegangan
Motivasi individu untuk makan makanan yang seimbang dan persepsi individu tentang diet merupakan pengaruh yang kuat. Makanan mempunyai nilai simbolik yang kuat bagi banyak orang (mis. Susu menyimbolkan kelemahan dan daging menyimbulkan kekuatan).
11. Alkohol dan Obat
Penggunaan alcohol dan obat yang berlebihan memberi kontribusi pada defisiensi nutrisi karena uang mungkin dibelajakan untuk alcohol daripada makanan. Alcohol yang berlebihan juga mempengaruhi organ gastrointestinal. Obat-obatan yang menekan nafsu makan dapat menurunkan asupan zat gizi esensial. Obat-obatan juga menghabiskan zat gizi yang tersimpan dan mengurangi absorpsi zat gizi di dalam intestine.

2.3 MASALAH YANG TIMBUL DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI
Secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi terdiri atas kekeurangan dan kelebihan nutrisi, obesitas, malnutrisi, Diabetes Melitus, Hipertensi, Jantung Koroner, Kanker, Anoreksia Nervosa.
1. Kekurangan nutrisi
Kekurangan nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak berpuasa (normal) atau resiko penurunan berat badan akibat ketidakmampuan asupan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.
Tanda klinis :
• Berat badan 10-20% dibawah normal
• Tinggi badan dibawah ideal
• Lingkar kulit triseps lengan tengah kurang dari 60% ukuran standar
• Adanya kelemahan dan nyeri tekan pada otot
• Adanya penurunan albumin serum
• Adanya penurunan transferin
• Kemungkinan penyebab:
• Meningkatnya kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit infeksi atau kanker
• Disfagia karena adanya kelainan persarafan
• Penurunan absorbsi nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa
• Nafsu makan menurun
2. Kelebihan nutrisi
Kelebihan nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang mempunyai resiko peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme secara berlebihan.
Tanda klinis :
• Berat badan lebih dari 10% berat ideal
• Obesitas (lebih dari 20 % berat ideal)
• Lipatan kulit trisep lebih dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita
• Adanya jumlah asupan berlebihan aktivitas menurun atau monoton
• Kemungkinan penyebab :
• Perubahan pola makan
• Penurunan fungsi pengecapan dan penciuman

1. Obesitas
Obesitas merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai lebih dari 20% berat badan normal. Status nutrisinya adalah melebihi kebutuhan asupan kalori dan penurunan dalam penggunaan kalori.
2. Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Gejala umumnya adalah berat badan rendah dengan asupan makanan yang cukup atau asupan kurang dari kebutuhan tubuh, adanya kelemahan otot dan penurunan energi, pucat pada kulit, membrane mukosa, konjungtiva dan lain- lain.
3. Diabetes mellitus
Diabetes melitus merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan adanya gangguan metabolisme karbohidrat akibat kekurangan insulin atau penggunaan karbohidrat secara berlebihan.
4. Hipertensi
Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas, serta asupan kalsium, natrium, dan gaya hidup yang berlebihan.
5. Penyakit jantung koroner
Penyakit jantung koroner merupakan gangguan nutrisi yang sering disebabkan oleh adanya peningkatan kolesterol darah dan merokok. Saat ini, penyakit jantung koroner sering dialami karena adanya perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat, obesitas dan lain-lain.
6. Kanker
Kanker merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang disebabkan oleh pengonsumsian lemak secara berlebihan.

2.4 PROSEDUR PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI
1. Pemberian nutrisi melalui oral
Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri.
Persiapan Alat dan Bahan :
a) Piring
b) Sendok
c) Garpu
d) Gelas
e) Serbet
f) Mangkok cuci tangan
g) Pengalas
h) Jenis diet
Prosedur Kerja :
a) Cuci tangan
b) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c) Atur posisi depan
d) Pasang pengalas
e) Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum berdoa
f) Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan sedikit demi sedikit dan berikan minum sesudah makan.
g) Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sebentar.
h) Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
i) Cuci tangan
2. Pemberian nutrisi melalui pipa penduga/lambung.
Pemberian nutrisi melalui pipa penduga merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral.
Persiapan Alat dan Bahan :
a) Pipa penduga dalam tempatnya
b) Corong
c) Spuit 20cc
d) Pengalas
e) Bengkok
f) Plester, Gunting
g) Makanan dalam bentuk cair
h) Air matang
i) Obat
j) Stetoskop
k) Klem
l) Baskom berisi air (kalo tidak ada stetoskop)
m) Vaselin
Prosedur Kerja :
a) Cuci tangan
b) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c) Atur posisi semi/fowler pada pasien
d) Bersihkan daerah hidung dan pasangkan pengalas di daerah dada
e) Letakkan bengkok (neirbekken) di dekat pasien
f) Tentukan letak pipa penduga dengan mengukur panjang pipa dari epigastrum sampai hidung. Kemudian dibengkokkkan ke telinga, dan beri tanda batasnya.
g) Berikan vaselin atau pelicin pada ujung pipa dan klem pangkal pipa tersebut, lalu masukkan melalui hidung secara perlahan-lahan sambil pasien dianjurkan untuk menelannya.
h) Tentukan apakah pipa tersebut benar-benar sudah masuk ke lambung dengan cara :
1) Masukknya ujung selang yang diklem ke dalam baskom yang berisi air (klem dibuka). Perhatikan bila ada gelembung, pipa tersebut masuk ke lambung. Setelah itu di klem atau dilipat kembali.
2) Masukkan udara dengan spuit ke dalam lambung melalui pipa tersebut dan dengarkan dengan stetoskop. Bila di lambung terdengar bunyi, berarti pipa tersebut sudah masuk. Setelah itu, keluarkan udara yang ada di dalm sebanyak jumlah yang dimasukkan.Setelah selesai, maka lakukan tindakan pemberian makanan dengan memasang corong atau spuit pada pangkal pipa.
i) Pada awalnya, tuangkan dan masukkan air matang ± 15cc melalui pinggirnya.
j) Berikan makanan dlam bentuk cair yang tersedia. Setelah itu, bila ada obat, maka asupan, kemudia beri minum, lalu pipa pendugadiklem
k) Catat hasil atau respons pasien selama pemberian makanan.
l) Cuci tangan
1. Pemansangan NGT pada dewasa
• Pengertian
NGT adalah kependekan dari Nasogastric tube. alat ini adalah alat yang digunakan untuk memasukkan nutsrisi cair dengan selang plasitic yang dipasang melalui hidung sampai lambung. Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:
1. Dewasa ukurannya 16-18 Fr
2. Anak-anak ukurannya 12-14 Fr
3. Bayi ukuran 6 Fr

• Indikasi pemasangan NGT
indikasi pasien yang di pasang NGT adalah diantaranya sebagai berikut:
1. Pasien tidak sadar
2. pasien Karena kesulitan menelan
3. pasien yang keracunan
4. pasien yang muntah darah
5. Pasien Pra atau Post operasi esophagus atau mulut
• Tujuan Pemasangan NGT
Tujuan pemasangan NGT adalah sebagai berikut:
1. Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan menelan
2. Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar
3. Untuk melakukan kumbang lambung pada pasien keracunan
4. Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau pendarahan pada lambung
• Kontraindikasi pemasangan NGT
1. Pada pasien yang memliki tumor di rongga hidung atau esophagus
2. Pasien yang mengalami cidera serebrospinal
• Peralatan yang dipersiapkan diantaranya adalah;
1. Selang NGT ukuran dewasa, anak –anak dan juga bayi. Melihat kondisi pasiennya
1. Handscun bersih
2. Handuk
3. Perlak
4. Bengkok
5. Jelli atau lubricant
6. Spuit 10 cc
7. Stetoskop
8. Tongue spatel
9. Plaster
10. Pen light
11. Gunting

• Prosedur Kerja:
1. Siapkan peralatan di butuhkan seperti yang telah disebutkan diatas termasuk plester 3 untuk tanda, fiksasi di hidung dan leherdan juga ukuran selang NGT
2. Setelah peralatan siap minta izin pada pasien untuk memasang NGT dan jelaskan pada pasien atau keluarganya tujuan pemasangan NGT
3. Setelah minta izin bawa peralatan di sebelah kanan pasien. Secara etika perawat saat memasang NGT berda di sebelah kanan pasien
4. Pakai handscoon kemudian posisikan pasien dengan kepala hiper ekstensi
5. Pasang handuk didada pasien untuk menjaga kebersihan kalau pasien muntah
6. Letakkan bengkok di dekat pasien
7. Ukur selang NGT mulai dari hidung ke telinga bagian bawah, kemudian dari telinga tadi ke prosesus xipoidius setelah selesai tandai selang dengan plaster untuk batas selang yang akan dimasukkan
8. Masukkan selang dengan pelan2, jika sudah sampai epiglottis suruh pasien untuk menelan dan posisikan kepala pasien fleksi, setelah sampai batas plester cek apakah selang sudah benar2 masuk dengan pen light jika ternyata masih di mulut tarik kembali selang dan pasang lagi
9. Jika sudah masuk cek lagi apakah selang benar-benar masuk lambung atau trakea dengan memasukkan angin sekitar 5-10 cc dengan spuit. Kemudian dengarkan dengan stetoskop, bila ada suara angin berarti sudah benar masuk lambung. Kemuadian aspirasi kembali udara yang di masukkan tadi
10. Jika sudah sampai lambung akan ada cairan lambung yang teraspirasi
11. Kemudian fiksasi dengan plester pada hidung, setelah fiksasi lagi di leher. Jangan lupa mengklem ujung selang supaya udara tidak masuk
12. Setelah selesai rapikan peralatan dan permisi pada pasien atau keluarga.

2. Pemasangan NGT pada bayi
• Pengertian
Merupakan tindakan keperawaan yaitu memasang NGT pada bayi yang mengalami gangguan nutrisi.
• Tujuan
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi/anak
• Alat dan bahan
o baki dan alas
o NGT sesuai kebutuhan (bayi no. 5-8 dan anak no. 10-14)
o Spuit 10-20 cc
o Serbet makan
o Kain alas
o Nierbeken
o Plester dan gunting\
• Proseduur Kerja
o Jelaskan prosedur pada pasien/keluarga pasien
o Cuci tangan
o Pasang handscoon
o Anak diatur dalam posisi semi fowler. Pada anak yang gelisah bila tidak ada orang lain yang membantu pasang restrain, pada bayi di bedong
o Meletakkan kain alas di bawah kepala bayi/anak
o Serbet makan dipasang di atas dada. Nierbeken diletakkan disamping pipi
o Lubang hidung dibersihkan
o Mengukur panjang pipa yang akan di masukkan
o Memberi batas panjang pipa yang harus masuk
o Memasukkan pipa lambung ke dalam salah satu lubang hidung sampai batas yang telah ditentukan
o Memeriksa ketepatan pipa masuk ke dalam lambung dengan cara:
 Menghisap cairan lambung dengan spuit
 Mendengarkan melalui stetoskop sementara melalui pipa dimasukkan udara 2-3 cc dengan spuit
 Menambatkan pipa lambung dengan plester
 Spuit dipasang pada pangkal pipa kemudian udara di hisap kembali
 Rapikan alat
 Cuci tangan
 Dokumentasi tindakan

2.5 Kecepatan Metabolisme Basal (BMR)
Bahkan ketika seseorang benar-benar dalam keadaan beristirahat, sejumlah energi tetap dibutuhkan untuk mengerjakan seluruh reaksi kimia tubuh. Tingkat energi minimum yang diperlukan untuk bertahan hidup tersebut dinamakan kecepatan metabolik basal (BMR) dan mencakup sekitar 50-70% dari energi harian yang dipakai pada kebanyakan individu yang tidak aktif (sedentary).
Karena tingkat aktivitas fisik sangat bervariasi di antara individu yang berbeda, pengukuran BMR dapat berfungsi sebagai perangkat yang berguna dalam membandingkan kecepatan metabolisme seseorang dengan orang lain. Metode yang biasa digunakan untuk menentukan BMR ialah dengan mengukur kecepatan penggunaan oksigen selama waktu yang ditektukan di bawah kondisi-kondisi berikut:
 Seseorang tidak boleh makan paling sedikit 12 jam terakhir
 Kecepatan metabolisme basal ditentukan setelah tidur penuh semalaman
 Tidak melakukan pekerjaan berat selama setidaknya 1 jam sebelum pengujian
 Semua faktor fisik dan psikis yang menimbulkan rangsangan harus dihilangkan
 Suhu kamar harus nyaman dan berkisar antara 68o dan 80oF
 Selama pengujian, tidak diijinkan melakukan aktivitas fisik apapun.
Nilai BMR normalnya berkisar antara 65-70 Kalori per jam pada laki-laki kebanyakan yang berat badannya 70kg. Walaupun kebanyakan BMR terpakai dalam aktivitas esensial sistem saraf pusat, jantung, ginjal, dan organ lainnya, variasi dalam BMR di antara individu yang berbeda terutama terkait pada perbedaan jumlah otot rangka dan ukuran tubuh.
Otot rangka, bahkan dalam keadaan istirahat, mencakup 20-30% dari BMR. Karenanya, BMR biasanya dikoreksi untuk perbedaan yang berasal dari ukuran tubuh dengan menyatakannya dalam Kalori per jam per meter persegi luas permukaan tubuh, yang dihitung dari tinggi dan berat badan.
Kebanyakan penurunan BMR akibat penambahan usia mungkin terkait dengan hilangnya massa otot tersebut dengan jaringan adiposa, yang mempunyai kecepatan metabolisme lebih rendah. Hampir mirip, BMR yang sedikt lebih rendah pada wanita, dibandingkan pria, adalah sebagian karena persentase jaringan adiposa yang lebih tinggi. Namun terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi BMR.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan metabolisme, di antaranya ialah:
 Hormon Tiroid
Apabila kelenjar tiroid menyekresikan tiroksin dalam jumlah maksimal, kecepatan metabolisme kadang meningkat 50-100% di atas normal. Sebaliknya, kehilangan total sekresi tiroid menurunkan kecepatan metabolik 40-60% dari normal. Tiroksin meningkatkan kecepatan reaksi kimia banyak sel di dalam tubuh dan karenanya meningkatkan kecepatan metabolisme.
 Hormon kelamin pria
Hormon kelamin pria, testosteron, dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15%. Kebanyakan efek hormon kelamin pria tersebut berkaitan dengan efek anaboliknya dalam meningkatkan massa otot rangka.
 Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan dapat meningkatkan kecepatan metabolisme 15-20% sebagai akibat rangsangan langsung pada metabolisme selular.
 Demam
Demam, tanpa melihat penyebabnya, meningkatkan kecepatan reaksi kimia rata-rata 120% untuk setiap peningkatan temperatur 10oC

 Tidur
Kecepatan metabolisme menurun 10-15% di bawah normal selama tidur. Penurunan ini diduga disebabkan oleh dua faktor penting, yakni penurunan tonus otot rangka selama tidur dan penurunan aktivitas sistem saraf simpatis.
 Malnutrisi
Malnutrisi lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20-30%, penurunan ini diduga disebabkan oleh tidak adanya zat makanan yang dibutuhkan di dalam sel. Pada stadium akhir dari beberapa penyakit, pengurusan dan pelemahan tubuh (inanition) yang menyertai penyakit sering kali menimbulkan tanda penurunan kecepatan metabolisme yang nyata, sangat hebatnya sehingga suhu tubuh dapat menurun beberapa derajat sesaat sebelum meninggal.
2.6 Suhu Tubuh Normal
Suhu inti merupakan suhu dari tubuh bagian dalam (“inti” dari tubuh) yang dipertahankan sangat konstan dari hari ke hari, kecuali bila seseorang mengalami demam. Bahkan seseoang dapat terpajan dengan suhu yang cukup rendah maupun suhu tinggi dalam udara kering, dan tetap dapat mempertahankan suhu inti yang hampir mendekati konstan. Mekanisme untuk pengaturan suhu tubuh menggambarkan sistem pengndalian yang dibuat dengan sangat baik.
Suhu kulit, berbeda dengan suhu inti, dapat naik dan turun sesuai dengan suhu lingkungan. Suhu kulit merupakan suhu yang penting apabila sedang merujuk kepada kmampuan kulit untuk melepaskan panas ke lingkungan.
Suhu inti normal, rentangnya bila diukur per oral mulai dari di bawah 97oF (36oC) sampai lebih dari 99,5oF (37,5oC). Suhu inti normal rata-rata secara umum sekitar 98oF dan 98,6oF bila diukur secara oral, dan bila diukur secara rektal kira-kira 1oF (0,6oC) lebih tinggi. Suhu tubuh meningkat selama olahraga dan bervariasi pada suhu lingkungan yang ekstrim, karena mekanisme pengaturan suhu tidaklah sempurna. Bila dibentuk panas yang berlebihan di dalam tubuh karena kerja fisik yang melelahkan, suhu akan meningkat sementara sampai 101o-104oF. Sebaliknya, ketika tubuh terpajan dengan suhu yang dingin, suhu dapat turun sampai di bawah nilai 96oF.

2.7 Pengaturan Suhu
Pengaturan suhu dikendalikan oleh keseimbangan antara pembentukan panas dan kehilangan panas. Bila laju pembentukan panas di dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, panas akan timbul di dalam tubuh dan suhu tubuh akan meningkat. Sebaliknya, bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh akan menurun.

2.8 Pembentukan Panas Secara Umum
Pembentukan panas adalah produk utama metabolisme. Faktor-faktor yang menentukan laju pembentukan panas/ laju metabolisme tubuh, antara lain: 1) laju metabolisme basal semua sel tubuh; 2) laju metabolisme tambahan yang disebabkan oleh aktivitas otot, termasuk kontraksi otot yang disebabkan oleh menggigil; 3) metabolisme tambahan yang disebabkan oleh pengaruh tiroksin (dan sebagian kecil hormon lain, seperti hormon pertumuhan dan testosteron) terhadap sel; 4) metabolisme tambahan yang disebabkan oleh pengruh epinefrin, norepinefrin, dan perangsangan simpatis terhadap sel; dan 5) metabolisme tambahan yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas kimiawi di dalam sel sendiri, terutama bila suhu di dalam sel meningkat; 6) metabolisme tambahan yang diperlukan untuk pencernaan, absorbsi, dan penyimpanan makanan (efek termogenik makanan).

2.9 Kehilangan Panas
Sebagian besar pembentukan panas di dalam tubuh dihasilkan di organ dalam, terutama di hati, otak, jantung, dan otot rangka selama berolahraga. Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan jaringan yang lebih dalam ke kulit, yang kemudian dibuang ke udara dan lingkungan sekitarnya . Oleh karena itu, laju hilangnya panas hampir seluruhnya ditentukan oleh dua faktor: 1) seberapa cepat panas yang dapat dikonduksi dari tempat asal panas dihasilkan, yakni dari dalam inti tubuh ke kulit dan 2) seberapa cepat panas kemudian dapat dihantarkan dari kulit ke lingkungan. Kulit, jaringan subkutan, dan terutama lemak di jaringan subkutan bekerja secara bersama-sama sebagai insulator panas tubuh.
Aliran darah ke kulit dari inti tubuh menyediakan terjadinya pemindahan panas. Berbagai cara yang menjelaskan mengenai panas panas yang hilang dari kulit ke lingkungan, cara tersebut meliputi radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi.
2.10 Radiasi
Kehilangan panas melalui radiasi berarti kehilangan dalam bentuk gelombang panas infra merah, suatu jenis gelombang elektromagnetik. Sebagian besar gelombang panas infra merah yang memancar dari tubuh memiliki panjang gelombang sekitar 10 sampai 30 kali panjang gelombang cahaya. Semua benda yang tidak berada pada suhu nol absolut memancarkan panas seperti gelombang tersebut. Tubuh manusia menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang panas juga dipancarkan dari dinding ruangan dan benda-benda lain ke tubuh. Bila suhu tubuh lebih besar dari suhu lingkungan, jumlah panas yang lebih besar akan dipancarkan keluar dari tubuh daripada yang dipancarkan ke tubuh.
2.11 Konduksi
Hanya sejumlah kecil panas, yakni sekitar 3%, yang biasanya hilang dari tubuh melalui konduksi langsung dari permukaan tubuh ke benda-benda padat (seperti kursi atau tempat tidur). Sebaliknya, kehilangan panas melalui konduksi ke udara mencerminkan kehilangan panas tubuh yang cukup besar (kira-kira 15%) walaupun dalam keadaan normal.
Panas sebenarnya adalah energi kinetik dari pergerkan molekul, dan molekul-molekul yang menyusun kulit terus-menerus mengalami gerakan vibrasi. Sebagian besar energi dari gerakan ini dapat dipindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit, sehingga meningkatkan kecepatan gerakan molekul-molekul udara. Sekali suhu udara yang berlekatan dengan kulit menjadi sama dengan suhu kulit, tidak terjadi lagi kehilangan panas dari tubuh ke udara, karena sekarang jumlah panas yang dikonduksikan dari udara ke tubuh berada dalam keadaan seimbang. Oleh karena itu, konduksi panas dari tubuh ke udara mempunyai keterbatasan, kecuali udara panas bergerak menjauhi kulit, sehingga udara baru, yang tidak panas secara terus-menerus bersentuhan dengan kulit, fenomena ini disebut konveksi udara.

2.12 Konveksi
Perpindahan panas dari tubuh melalui aliran udara konveksi secara umum disebut kehilangan panas melalui konveksi. Sebenarnya, panas pertama-tama harus dikonduksi ke udara dan kemudian dibawa melalui aliran udara konveksi. Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi di sekitar tubuh akibat kecenderungan udara di sekitar kulit untuk naik sewaktu menjadi panas. Oleh karena itu, orang yang duduk di ruangan yang nyaman tanpa gerakan udara yang besar, akan kehilangan sekitar 15% dari total panas yang hilang melalui konduksi ke udara dan kemudian melalui konveksi udara yang menjauhi tubuhnya.
2.13 Evaporasi
Bila air berevaporasi dari permukaan tubuh, panas sebesar 0,58 kilokalori akan hilang setiap satu gram air yang mengalami evaporasi. Bahkan bila orang tersebut tidak berkeringat, air masih berevaporasi secara tidak kelihatan dari kulit dan paru dengan kecepatan sekitar 600-700 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas yang terus menerus dengan kecepatan 16-19 Kalori/jam. Evaporasi melalui kulit dan paru yang tidak kelihatan ini tidak dapat dikendalikan untuk tujuan pengaturan suhu karena evaporasi tersebut dihasilkan dari difusi molekul air yang terus menerus melalui permukaan kulit dan sistem pernapasan. Akan tetapi, kehilangan panas melalui evaporasi keringat dapat dikendalikan dengan pengaturan kecepatan berkeringat.
Selama suhu kulit lebih tinggi dari suhu lingkungan, panas dapat hilang melalui radiasi dan konduksi. Tetapi ketika suhu lingkungan menjadi lebih tinggi dari suhu kulit, bukan justru menghilangkan panas, tetapi tubuh memperoleh panas melalui radiasi dan konduksi. Dalam keadaan ini, satu-satunya cara agar tubuh dapat melepaskan panas adalah dengan evaporasi.

2.14 Konsep Set-Point untuk Pengaturan Suhu
Pada suhu inti tubuh yang kritis, sekitar 37,1oC (98,8oF) akan menyebabkan perubahan drastis kecepatan kehilangan panas dan pembentukan panas. Pada suhu di atas nilai ini, kecepatan kehilangan panas lebih besar dari kecepatan pembentukan panas, sehingga suhu tubuh turun dan mendekati nilai 37,1oC. Pada suhu di bawah nilai ini, kecepatan pembentukan panas lebih besar dari kecepatan kehilangan panas, sehingga suhu tubuh akan meningkat dan sekali lagi mendekati nilai 37,1oC. Nilai suhu kritis ini disebut set point pada mekanisme pengaturan suhu. Yaitu, semua mekanisme pengaturan suhu secara terus menerus berupaya untuk mengembalikan suhu tubuh kembali ke nilai set point.

2.15 Demam
Demam, yang berarti suhu tubuh di atas batas normal, dapat disebabkan oleh kelainan di dalam otak sendiri atau oleh bahan-bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan-suhu. Beberapa penyebab demam, biasanya meliputi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, tumor otak, dan keadaan lingkungan yang berakhir dengan heatstroke.

2.16 Mengatur kembali pusat pengaturan suhu Hipotalamus pada penyakit Demam-Efek Pirogen
Sebagian besar protein, hasil pemecahan protein, dan beberapa zat tertentu lainnya, terutama toksin liposakarida yang dilepaskan dari membran sel bakteri, dapat menyebabkan peningkatan set point pada termostat hipotalamus. Zat yang menimbulkan efek seperti ini disebut pirogen. Pirogen yang dilepaskan dari bakteri toksik atau pirogen yang dilepaskan dari degenarisi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit. Ketika set point di pusat pengaturan suhu hipotalamus menjadi lebih tinggi dari normal, semua mekanisme untuk meningkatkan suhu tubuh terlibat, termasuk penyimpanan panas dan peningkatan pembentukan panas. Dalam beberapa jam setelah set point ditingkatkan, suhu tubuh juga mendekati nilai ini.
Mekanisme kerja pirogen dalam menyebabkan demam berkaitan dengan peranan Interleukin-1. Percobaan pada hewan telah memperlihatkan bahwa beberapa pirogen, ketika disuntikan ke dalam hipotalamus, dapat segera bekerja secara langsung pada pusat pengaturan suhu hipotalamus untuk meningkatkan set point nya. Pirogen lainnya berfungsi secara tidak langsung dan mungkin membutuhkan periode laten selama beberapa jam sebelum menimbulkan efek ini. Hal ini terjadi pada sebagian besar bakteri pirogen, terutama endotoksin dari bakteri gram negatif.
Apabila bakteri atau hasil pemecahan bakteri terdapat di dalam jaringan atau di dalam darah, keduanya akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 (yang juga disebut leukosit pirogen atau pirogen endogen) ke dalam cairan tubuh. Interleukin-1, saat mencapai hipotalamus segera mengaktifkan proses yang menimbulkan demam, kadang-kadang meningkatkan suhu tubuh dalam jumlah yang jelas terlihat dalam waktu 8-10 menit. Sedikitnya sepersepuluh juta gram endotoksin lipopolisakarida dari bakteri, bekerja dengan cara ini secara bersama-sama dengan leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh, dapat menyebabkan demam. Jumlah interleukin-1 yang dibentuk sebagai respons terhadap lipopolisakarida untuk menyebabkan demam hanya beberapa nanogram.
Beberapa percobaan, telah menunjukan bahwa interleukin-1 menyebabkan demam, pertama-tama dengan menginduksi pembentukan salah satu prostaglandin, terutama prostaglandin E2, atau zat yang mirip, dan selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam. Ketika pembentukan prostaglandin dihambat oleh obat, demam sama sekali tidak terjadi atau paling tidak berkurang. Sebenarnya, hal ini mungkin sebagai penjelasan bagaimana cara aspirin menurunkan demam, karena aspirin mengganggu pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat. Obat seperti aspirin uang menurunkan demam disebut antipiretik.

2.17 Stadium Demam
Kedinginan, merupakan stadium demam di mana set point pusat pengatur suhu hipotalamus tiba-tiba berubah dari nilai normal menjadi lebih tinggi dari nilai normal (akibat penghancuran jaringan, zat pirogen, atau dehidrasi), biasanya dibutuhkan waktu selama beberapa jam agar suhu tubuh dapat mencapai set point suhu yang baru. Dengan terjadinya peningkatan set point yang tiba-tiba (misalnya 103oF), sementara suhu darah lebih rendah dari set point pengatur hipotalamus, akan terjadi reaksi umum yang menyebabkan kenaikan suhu tubuh. Selama periode ini, seseorang akan menggigil dan merasa sangat kedinginan, walaupun suhu tubuhnya telah di atas normal. Demikian juga, kulit menjadi dingin karena terjadi vasokonstriksi, dan orang tersebut gemetar. Menggigil dapat berlanjut sampai suhu tubuh mencapai set point hipotalamus 103oF. Kemudian orang tersebut tidak lagi menggigil tetapi sebaliknya tidak merasa dingin atau panas. Sepanjang faktor yang menyebabkan set point yang meningkat pada pengatur suhu hipotalamus terus ada, suhu tubuh akan diatur lebih kurang dengan cara yang normal, tetapi pada nilai set point suhu yang tinggi.
Krisis atau “kemerahan”, merupakan tahap bila faktor yang menyebabkan suhu tinggi dihilangkan, set point pada pengatur suhu hipotalamus akan turun ke nilai yang lebih rendah mungkin bahkan kembali ke nilai normal. Dalam keadaan misalnya suhu tubuh masih 103oF, tetapi hipotalamus berupaya untuk mengatur suhu sampai 98,6oF. Keadaan ini analog dengan pemanasan yang berlebihan di area preoptik-hipotalamus anterior, yang menyebabkan pengeluaran keringat banyak dan kulit tiba-tiba menjadi panas karena vasodilatasi di semua tempat. Perubahan yang tiba-tiba dari peristiwa ini dalam penyakit demam dikenal sebagai “krisis” atau “kemerahan”. Pada masa lampau, sebelum diberikan antibiotika, keadaan krisis selalu dinantikan, karena apabila hal ini terjadi, dokter dengan segera mengetahui bahwa suhu pasien akan segera turun.

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kebutuhan nutrisi berkaitan erat dengan aspek-aspek yang lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan aspek-aspek yang lain. Nutrisi berpengaruh juga dalam fungsi-fungsi organ tubuh, pergerakan tubuh, mempertahankan suhu, fungsi enzim, pertumbuhan dan pergantian sel yang rusak. Dan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tubuh manusia, maka akan terhindar dari ancaman-ancaman penyakit.
3.2 SARAN
Kebutuhan nutrisi dalam tubuh setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk melakukan peningkatan kebutuhan nutrisi dapat dilakukan dengan cara makan-makanan dengan gizi seimbang dengan di imbangi keadaan hidup bersih untuk setiap individu. Hal tersebut harus dilakukan setiap hari, karena tanpa setiap hari maka tubuh manusia bisa terserang penyakit akibat imune tubuh yang menurun.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Brunner & Suddart, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Vol.1. Jakarta: EGC
Towarto, Wartonal. 2007. Kebutuhan Dasar & Prose Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika
Perry, dkk. 2005. Buku saku: Keterampilan dan Prosedur Dasar. Jakarta: EGC
Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, AAA, Uliyah, Musriful. 2008. Konsep Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Makalah Etika Kep. tentang hubungan perawat, dokter, dan pasien

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku.Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang melibatkan aturan atau prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar. Moral adalah perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang merupakan “standar perilaku” dan “nilai” yang harus diperhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat tempat ia tinggal. Etiket atau adat merupakan sesuatu yang dikenal, diketahui, diulang serta menjadi suatu kebiasaan di dalam suatu masyarakat baik berupa kata – kata maupun bentuk perbuatan yang nyata.Etika adalah kode prilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi kelompok tertentu.Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar.Etika berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban moral. Etika berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tidakan yang mempunyai prinsip benar dan salah, serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral, menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki prilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik. Etika bisa diartikan juga sebagai, yang berhubungan dengan pertimbangan keputusan, benar atau tidaknya suatu perbuatan karena tidak ada undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal yang harus dilakukan.Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang bersumber dari martabat dan hak manusia (yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan dari profesi.Profesi menyusun kode etik berdasarkan penghormatan atas nilai dan situasi individu yang dilayani.Banyak pihak yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI atau IBI. Moral, istilah ini berasal dari bahasa latin yang bearti adat atau kebiasaaan. Pengertian moral adalah perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang merupakan “standar perilaku” dan “nilai” yang harus diperhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat tempat ia tinggal. Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan praktek professional.Etika, moral dan etiket sulit dibedakan, hanya dapat dilihat bahwa etika lebih dititikberatkan pada aturan, prinsip yang melandasi perilaku yang mendasar dan mendekati aturan, hukum dan undang-undang yang membedakan benar atau salah secara moralitas.nilai-nilai moral yang ada dalam kode etik keperawatan Indonesia (2000), diantaranya:
1. Menghargai hak klien sebagai individu yang bermartabat dan unik
2. Menghormati nilai-nilai yang diyakini klien
3. Bertanggung jawab terhadap klien
4. Confidentiality

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa saja model hubungan perawat, dokter, dan pasien?
1.2.2 Bagaimana hubungan perawat dan pasien?
1.2.3 Bagaiman hubungan antara perawat dengan perawat?
1.2.4 Bagaiman hubungan perawat dan dokter?
1.2.5 Apa saja model-model pengambilan keputusan etika dalam keperawatan?
1.2.6 Bagaiman otonomi pasien?
1.2.7 Bagaiman sikap terhadap kematian?
1.2.8 Bagaimana pengambilan keputusan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Dapat mengetahui tentang model hubungan perawat, dokter, dan pasien.
1.3.2 Dapat mengetahui tentang hubungan perawat dan pasien.
1.3.3 Dapat mengetahui tentang hubungan antara perawat dengan perawat.
1.3.4 Dapat mengetahui tentang hubungan perawat dan dokter.
1.3.5 Dapat mengetahui model-model pengambilan keputusan etika dalam keperawatan.
1.3.6 Dapat mengetahui tentang otonomi pasien.
1.3.7 Dapat mengetahui tentang sikap terhadap kematian.
1.3.8 Dapat mengetahui tentang pengambilan keputusan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Model Hubungan Perawat, Dokter, Dan Pasien
2.1.1 Model Aktivitas- Pasivitas
Suatu model dimana perawat dan dokter berperan aktif dan pasien berperan pasif.Model ini tepat untuk bayi, pasien koma, pasien dibius, dan pasien dalam keadaan darurat.Dokter berada pada posisi mengatur semuanya, merasa mempunyai kekuasaan, dan identitas pasien kurang diperhatikan. Model ini bersifat otoriter dan paternalistic.
2.1.2 Model Hubungan Membantu
Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktik keperawatan atau praktik kedokteran. Model ini terdiri dari pasien yang mempunyai gejala mencari bantuan dan perawat atau dokter yang mempunyai pengetahuan terkait dengan kebutuhan pasien.Perawat dan dokter memberi bantuan dalam bentuk perlakuan/ perawatan atau pengobatan. Timbal baliknya pasien diharapkan bekerja sama dengan mentaati anjuran perawat atau dokter. Dalam model ini, perawat dan dokter mengetahui apa yang terbaik bagi pasien, memegang apa yang diminati pasien dan bebas dari prioritas yang lain. Model ini bersifat paternalistik.
2.1.3 Model Partisipasi Mutual
Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama atau kesejahteraan antara umat manusia merupakan nilai yang tinggi, model ini mencerminkan asumsi dasar dari proses demokrasi. Interaksi, menurut model ini, menyebutkan kekuasaan yang sama, saling membutuhkan, dan aktivitas yang dilakukan akan memberikan kepuasan kedua pihak. Model ini mempunyai ciri bahwa setiap pasien mempunyai kemampuan untuk menolong dirinya sendiri yang merupakan aspek penting pada layanan kesehatan saat ini. Peran dokter dalam model ini adalah membantu pasien menolong dirinya sendiri.Dari perspektif keperawatan, model partisipasi mutual ini penting untuk mengenal dari pasien dan kemampuan diri pasien.Model ini menjelaskan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Keperawatan bersifat menghargai martabat individu yang unik, berbeda satu sama lain dan membantu kemampuan dalam menentukan dan mengatur diri sendiri ( Bandman and Bandman,2004. dikutip dari American Nurses Assocication, Nursing: Asocial Policy. Kansas City. MO: 2005).

2.2 Hubungan Perawat dan Pasien
Seorang pasien dalam situasi menjadi pasien mempunyai tujuan tertentu.Seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan juga mempunyai tujuan tertentu. Kondisi yang dihadapi pasien merupakan penentu peran perawat terhadap pasien ( Husted dan Husted, 2006 ).
Untuk menjelaskan peran perawat secara umum dapat digunakan kerangka yang mengacu pada pandangan dasar Helldegard .E Pepley, tentang hubungan perawat dan pasien dalam asuhan keperawatan, merupakan rasa percaya, pengukuran pemecahan masalah (Problem Solving), dan kolaborasi.
Dalam konteks hubungan perawat dan pasien, perawat dapat berperan sebagai konselor pada saat pasien mengungkapkan kejadian dan perasaan tentang penyakitnya.Perawat juga dapat berperan sebagai pengganti orang tua (terutama pada pasien anak), saudara kandung, atau teman bagi pasien dalam ungkapan perasaan-perasaannya.

2.3Hubungan antara Perawat dengan Perawat
Dalam membina hubungan antarsesama perawat yang ada, baik dengan lulusan S.Kep maupun DIII Keperawatan (Am.Kep) diperlukan adanya sikap saling menghargai dan saling toleransi sehingga sebagai perawat baru dapatr mengadakan pendekatan yang baik dengan kepala ruangan, dan juga para perawat lainnya.
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama dengan sesama perawat dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap klien. Dalam menjalankan tugasnya, perawat harus dapat membina hubungan baik dengansesama perawat yang ada di lingkungan tempat kerjanya. Dalam membina hubungan tersebut, sesama perawat harus mempunyai rasa saling menghargai dan saling toleransi yang tinggi agar tidak terjadi sikap saling curiga dan benci.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien komunikasi antartenaga kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting. Kesinambungan informasi tentang klien dan rencana tindakan yang telah, sedang dan akan dilakukan perawat dapat tersampaikan apabila hubungan atau komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.
Hubungan perawat dengan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural, dan hubungan intrapersonal.

2.4 Hubungan Perawatdan Dokter
Hubungan perawat dengan dokter telah terjalin seiring perkembangan kedua kedua profesi ini, tidak terlepas dari sejarah, sifat ilmu/ pendidikan, latar belakang personal dan lain- lain.
Kedokteran dan keperawatan, walaupun kedua disiplin ilmu ini sama- sama berfokus pada manusia, mempunyai beberapa perbedaan. Kedokteran lebih bersifat paternalistik, yang mencerminkan figur seorang bapak, pemimpin dan pembuat keputusan (judgment).Sedangkan keperawatan lebih bersifat mothernalistik, yang mencerminkan figure seorang ibu (mother instink) dalam memberikan asuhan keperawatan, kasih sayang, dan bantuan (helping relationship).

2.5 Model-Model Pengambilan Keputusan Etika Dalam Keperawatan
Ada 3 model pengambilan keputusan yang pertama adalah keputusan etis yang berpusat pada pasien , keputusan etis yang berpusat pada dokter dan berpusat pada birokrasi .
Dalam kasus ini kami akan mencoba untuk mengambil keputusan etis berdasarkan pada 5 tahap pengambilan keputusan secara etis menurut Silvia,
1. Pengkajian, tahap ini akan dilakukan dengan melihat situasi klien.
2. Identifikasi masalah
3. Mempertimbangkan kemungkinan tindakan, tindakan dengan pendekatan deontologik yaitu dengan berdasar pada moralitas dari suatu keputusan etis dan memperhatikan prinsip etika yaitu Beneficience dan justice.
4. Keputusan dan seleksi tindakan.
Membuat keputusan dengan memberikan informasi kepada klien bahwa setelah perawatan jika mengalami perbaikan maka pasien diharapkan untuk meninggalkan kebiasaan buruknya.Dengan memberikan penyuluhan pasca perawatan tentang bahaya dari kebiasaan buruk itu.
5. Refleksi terhadap keputusan dan tindakan yang diambil, artinya keputusan dan tindakan yang diambil tidak bertentangan dnegan hukum dan agama.

2.6 Otonomi Pasien (facilitate autonomy)
Suatu bentuk hak individu dalam mengatur kegiatan/prilaku dan tujuan hidup individu.Kebebasan dalam memilih atau menerima suatu tanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.Prinsip otonomi menegaskan bahwa seseorang mempunyai kemerdekaan untuk menentukan keputusan dirinya menurut rencana pilihannya sendiri. Bagian dari apa yang didiperlukan dalam ide terhadap respect terhadap seseorang, menurut prinsip ini adalah menerima pilihan individu tanpa memperhatikan apakah pilihan seperti itu adalah kepentingannya. (Curtin, 2002). Permasalahan dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit, lingkungan Rumah SAkit, ekonomi, tersedianya informsi dan lain-lain (Priharjo, 1995). Contoh: Kebebasan pasien untuk memilih pengobatan dan siapa yang berhak mengobatinya sesuai dengan yang diinginkan.

2.7 Sikap Terhadap Kematian
Kehilangan tidakselalu oleh kematian tetapi semua kehilangan disertai putus hubungan. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
2.7.1 Tipe Kehilangan :
1. Kehilangan cinta seseorang / orang yang dicintai
2. Kehilangan diri sendiri ( bodi, kepribadian yang dimiliki seseorang, gambaran mental, dll)
3. Kehilangan obyek ( mobil, rumah, dll)
1. Kehilangan Obyek Eksternal
Mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi usang, berpindah tempat, dicuri atau rusak karena bencana alam. Bagi anak-anak kehilangan boneka, selimut, dll. Sedangkan orang dewasa mungkin kehilangan perhiasan, motor, hap, dll. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang tergantung pada nilai dan kegunaan yang dimiliki benda tersebut.
2. Kehilangan Lingkungan yang telah dikenal
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan, yang mencakup meninggalkan lingkungan tersebut atau kepindahan permanen. Misalnya pindah ke kota baru, mendapatkan pekerjaan baru, atau perawatan di rumah sakit. Kehilangan melalui perpisahan dengan lingkungan yang telah dikenal dapat melalui situasi :
1) Maturasional (seorang lansia pindah ke panti werda, rumah perawatan)
2) Situasional(mengalami cedera / penyakit, kehilangan rumah karena bencana alam)
Perawatan mengakibatkan seseorang merasa di isolasi dari kejadian rutin. Peraturan rumah sakit membuat suatu lingkungan yang impersonal dan demoralisasi. Kesepian akibat lingkungan yang tidak dikenal mengancam harga diri dan membuat berduka menjadi lebih sulit.
3. Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara kandung, guru, pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja, bahkan mungkin hewan peliharaan, dan mungkin juga artis atau atlet idolanya. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan, pindah, melarikan diri, promosi di tempat kerja, dan kematian.
4. Kehilangan Aspek Diri
Dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh seperti anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara. Kehilangan fisiologis mencakup kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan, atau fungsi sensoris. Kehilangan fungsi psikologis termasuk kehilangan ingatan, rasa humor, harga diri, percaya diri, kekuatan respeks, atau cinta. Kehilangan ini dapat terjadi akibat penyakit, cedera, atau perubahan perkembangan atau situasi. Kehilangan ini dapat menurunkan kesejahteraan individu. Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan harga diri.
5. Kehilangan Hidup
Perhatian utama sering bukan pada kematian tetapi mengenai nyeri dan kehilangan kontrol. Sebagian besar orang takut akan kematian dan gelisah mengenai kematian. Setiap orang berespons berbeda terhadap kematian :
1) Orang yang menderita penyakit kronis lama dapat mengalami kematian sebagai peredaan
2) Sebagian menganggap kematian jalan menuju bersatu di surga dg orang yang dicintai
3) Sedangkan orang lain takut perpisahan, dilalaikan, kesepian, atau cedera. Ketakutan akan kematian sering menyebabkan individu menjadi ketergantungan.
2.7.2 Dalam Menghadapi Kehilangan
1) Bagaimana persepsi individu terhadap kehilangan
2) Tahap perkembangan
3) Kekuatan/koping mekanisme
4) Support system
2.7.3 Respons Fisik Yang Berhubungan Dengan Kehilangan :
1. Sakit kepala
2. Nafsu makan menurun atau meningkat
3. Perubahan kebiasaan BAB dan BAK
4. Perubahan pola tidur dan mimpi
5. Sesak nafas dan mulut kering
6. Tercekik pada tenggorokan dan / dada
7. Kelemahan otot
8. Tidak enak badan
9. Marah dan permusuhan
10. Kesalahan dan menyalahkan diri sendiri
2.7.4 Peran Perawat Dalam Menjelang Kematian
1. Menganjurkan pasien bicara tentang perasaan dan kehilangannya : ijinkan
Expresi feeling (menangis, marah )
2. Dengarkan pasien
3. Memberi bantuan dan informasi yang diperluksn
4. Menenangkan pasien bahwa berduka adalah proses normal
5. Menghormati agama, kultur. dan sosial pasien
2.7.5 Berduka, Berkabung Dan Kehilangan Karena Kematian
Istilahberduka, berkabung dan kehilangan karena kematiansering digunakan tumpang tindih. Kehilangan karena kematian adalah suatu keadaan pikiran, perasaan dan aktivitas yang mengikuti kehilangan. Keadaan ini mencakup berduka dan berkabung.Berduka merupakan reaksi bio- psiko- sosial terhadap persepsi dari kehilangan.Berduka adalah proses mengalami reaksi psikologis, sosial dan fisik terhadap kehilangan yang dipersepsikan. Respons tersebut yang diekspresikan terhadap kehilangan dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, keputusasaan, kesepian ketidakberdayaan, rasa bersalah, marah, dan lain-lain. Berkabung adalah proses yang mengikuti suatu kehilangan dan mencakup berupaya untuk melewati berduka/dukacita. Proses berduka/dukacita dan berkabung bersifat mendalam, internal, menyedihkan , dan berkepanjangan.
1. Teori Engel (1964)
Proses berduka mempunyai 3 fase yang dapat diterapkan pada seseorang yang berduka dan menjelang kematian, yaitu :
1) Fase pertama, individu menyangkal realitas kehidupan dan mungkin menarik diri, duduk tidak bergerak, atau menerawang tanpa tujuan. Reaksi fisik dapat seperti pingsan, berkeringat, mual, diare, frekuensi jantung cepat, gelisah, insomnia, dan keletihan.
2) Fase kedua, individu mulai merasa kehilangan tiba-tiba dan mungkin mengalami keputusasaan. Secara mendadak menjadi marah, rasa bersalah, frustrasi, depresi, dan kehampaan. Menangis adalah khas individu menerima kehilangan.
3) Faseketiga, Marah dan deoresi tidak lagi terjadi. Kehilangan telah jelas bagi individu yang mulai mengenali hidup. Dengan mengalami fase ini seseorang telah berkembang kesadaran dirinya (fungsi emosi dan intelektual menjadi lebih tinggi).
2. Teori KublerRoss (1969)
Tahapan menjelang ajal ( Dr. E. Kubler Ross )
1) Denial( Mengingkari /menyangkal )
Perasaan tidak percaya, syok, biasanya ditandai dengan menangis, gelisah, lemah, letih, dan pucat. Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal. Ia mungkin tidak menerima informasi ini sebagai kebenaran, dan bahkan mungkin mengingkarinya.
“ Saya? Tidak, tak mungkin”
“ Hal ini tidak terjadi pada saya
“ Saya terlalu muda untuk mati”
Perawat :
Cobalah untuk tidak mempertegas atau mengingkari kenyataan bahwa pasien menjelang kematian
Contoh :
“Hasil lab ini tidak benar, saya tidak menderita ca”
“ Pasti sulit bagi anda untuk memahami hasil pemeriksaan tersebut”
2) Anger( Marah )
Individu melawan kehilangan dan dapat bertindak pada seseorang dan segala sesuatu di lingkungan sekitarnya. Perasaan marah dapat diproyeksikan pada orang atau benda yang ditandai dengan muka merah, suara keras, tangan mengepal, nadi cepat, gelisah, dan perilaku agresif.
Terjadi ketika pasien tidak lagi dapat mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal. Pasien mungkin menyalahkan orang disekelilingnya termasuk perawat
“ Mengapa saya?”
: Semua ini adalah kesalahanmu. Saya seharusnya tidak datang ke RS ini”
Perawat:
Pahami penyebab marah pasien. Berikan pengertian dan dukungan. Dengarkan.
Cobalah memenuhi dengan cepat kebutuhan dan tututannya yang masuk akal.
Contoh :
“Makanan ini tidak enak, tidak cocok untuk dimakan”
“ Coba saya cari dulu, apakah ada makanan lain yang dapat meningkatkan selera anda “
3) Bargaining( Tawar-menawar )
Terdapat penundaan realitas kehilangan. Individu mampu mengungkapkan rasa marah atau kehilangan, ia akan mengekspresikan rasa bersalah, takut dan rasa berdosa. Pada tahapan ini pasien seringkali mencari pendapat orang lain. Kemarahan biasanya mereda dan pasien menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi pada dirinya. Pasien mencoba menawar waktu untuk hidup. Ia seringkali akan berjanji kepada Tuhan.
“ Jika Engkau mengijinkan saya hidup 2 bulan lagi, saya berjanji akan menjadi orang baik “
“ Saya tahu, saya akan mati dan saya siap untuk mati tetapi tidak sekarang “
Perawat :
Sebanyak mungkin permohonan pasien dapat dipenuhi. Dengarkan penuh perhatian.
Contoh :
“ Jika Tuhan dapat menundanya, saya akan ke gereja setiap minggu “
“ Apa anda ingin dikunjungi rohaniawan “
4) Depression( Depresi )
Terjadi ketika ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. Individu menunjukkan sikap menarik diri, tidak mau bicara, dan putus asa. Perilaku yang muncul seperti menolak makan, susah tidur, dan dorongan libido menurun, serta merasa terlalu kesepian. Pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati.
“ Ya, benar aku “
“ Saya selalu berjanji pada suami saya bahwa kita akan ke Eropa dan sekarang kita tidak akan pernah pergi lagi “
Ini biasanya merupakan satu waktu yang sedih. Pasien cenderung tidak banyak bicara dan mungkin sering menangis.
Perawat :
Perawat duduk dengan tenang di samping pasien. Hindari kata klise yang memperberat depresi pasien. Bersikaplah mengasihi dan mendukung. Biarkan pasien tahu bahwa ia boleh depresi.
Contoh :
“ Semua yang terjadi benar-benar tidak masuk akal “
“ Saya mengerti anda sangat tertekan “
5) Acceptance(Menerima )
Reaksi fisiologis menurun dan interaksi sosial berlanjut. Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan, pikiran yang berpusat pada obyek kehilangan mulai berkurang. K-R mendefinisikan ”penerimaan” lebih sebagai menghadapi situasi ketimbang menyerah untuk pasrah atau putus asa. Pada tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian. Pasien berusaha menyelesaikan urusan-urusan /tugasnya yang belum selesai dan mungkin tak ingin bicara lagi. K-R menyatakan : mencapai tahap ini tidak selalu berarti maut sudah dekat. Tahap ini bukanlah tahap pasrah berarti kekalahan.
“ Biarlah maut cepat-cepat mengambil aku, karena aku sudah siap”
Perawat :
Jangan menganggap bahwa hanya karena pasien telah menerima kenyataannya, bukan berarti ia tidak merasa takut atau tidakmemerlukan dukungan emosional. Dengarkan dengan penuh perhatian, dukung dan rawatlah.
Contoh :
“ Saya sangat kesepian “
“ Saya disini menemani anda. Apa anda ingin membicarakan sesuatu “
3. Fase Berduka menurut Rando [1993]
Respons berduka dibagi menjadi 3 katagori, yaitu :
Penghindaran, dimana terjadi syok, menyangkal dan ketidakpercayaan.
Konfrontasi, terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang melawan kehilangan dan kedukaan mereka yang dirakan paling dalam dan dirasakan paling akut.
3) Akomodasi, secara bertahap terjadi penurunan kedukaan akut. Klien belajar menjalani hidup dengan kehilangan mereka.
Peran Perawatadalah
Mengamati perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku, dan memberikan dukungan yang empatik.
Mati / Meninggal adalahberhentinya fungsi vital yang permanen, akhir penghidupan manusia.
2.7.6 Mempersiapkan Kematian
1. Setiap pasien bereaksi dengan cara yang unik
2. Kepada siapa pasien ingin mengungkapkan perasaannya keputusan yang sangat pribadi
3. Perawat harus bersedia mendengarkan, tetapi jangan memperbesar masalah.

2.8 Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.
Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan :
1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.
2. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tapi harus berdasarkan pada sistematika tertentu :
1. Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan yang akan diambil.
2. Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia
3. Falsafah yang dianut organisasi.
4. Situasi lingkungan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi administrasi dan manajemen di dalam organisasi.
3. Masalah harus diketahui dengan jelas.
4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul dengan sistematis.
5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif yang telah dianalisa secara matang.
Apabila pengambilan keputusan tidak didasarkan pada kelima hal diatas, akan menimbulkan berbagai masalah :
1. Tidak tepatnya keputusan.
2. Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan kemampuan organisasi baik dari segi manusia, uang maupun material.
3. Ketidakmampuan pelaksana untuk bekerja karena tidak ada sinkronisasi antara kepentingan organisasi dengan orang-orang di dalam organisasi tersebut.
4. Timbulnya penolakan terhadap keputusan.
Sikap atau watak berfikir kritis dapat ditingkatkan dengan memantapkan secara positif dan memotivasi lingkungan kerja. Kreativitas penting untuk membangkitkan motivasi secara individu sehingga mampu memberikan konsep baru dengan pendekatan inovatif dalam memecahkan masalah atau isu secara fleksibel dan bebas berpikir. Keterbukaan menerima kritik akan mengakibatkan hal positif seperti; semakin terjaminnya kemampuan analisa seseorang terhadap fakta dan data yang dihadapi dan akan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi kelemahan.
Prinsip utama untuk menetapkan suatu masalah adalah mengetahui fakta, kemudian memisahkan fakta tersebut dan melakukan interpretasi data menjadi fakta objektif dan menentukan luasnya masalah tersebut.Manajer membutuhkan kemampuan untuk menetapkan prioritas pemecahan masalah. Umumnya untuk pemecahan masalah selalu menggunakan metoda coba-coba dan salah, eksperimen, dan atau tidak berbuat apa-apa (“do nothing”). Pembuatan keputusan dapat dipandang sebagai proses yang menjembatani hal yang lalu dan hal yang akan datang pada saat manajer hendak mengadakan suatu perubahan.
Proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diatas adalah salah satu penyelesaian yang dinamis. Penyebab umum gagalnya penyelesaian masalah adalah kurang tepat mengidentifikasi masalah.Oleh karena itu identifikasi masalah adalah langkah yang paling penting.Kualitas hasil tergantung pada keakuratan dalam mengidentifikasi masalah.
Identifikasi masalah dipengaruhi oleh informasi yang tersedia, nilai, sikap dan pengalaman pembuat keputusan serta waktu penyelesaian masalah. Terutama waktu yang cukup untuk mengumpulkan dan mengorganisir data.
2.8.1FormatPengambilan Keputusan
Langkah utama proses pengambilan keputusan adalah sama dengan proses pemecahan masalah. Fase ini termasuk mendefinisikan tujuan, memunculkan pilihan, mengidentifikasi keuntungan dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan pilihan, menseleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum mendefinisikan tujuan, implementasi dan evaluasi.
2.8.2 Gaya Pengambilan Keputusan
Gaya pengambilan keputusan manajer perawat/bidan umumnya sama dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh manajer tersebut diatas. Ada 7 variabel yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk menyeleksi gaya yang paling cocok, yaitu :
1. Pentingnya kualitas keputusan untuk keberhasilan institusi.
2. Derajat informasi yang dimiliki oleh manajer.
3. Derajat pada masalah yang terstruktur dalam organisasi.
4. Pentingnya komitmen bawahan dan keterampilan membuat keputusan.
5. Kemungkinan keputusan autokratik dapat diterima.
6. Komitmen bawahan yang kuat terhadap tujuan institusi.
7. Kemungkinan bawahan konflik dalam proses akhir pada keputusan final.
Metode autokratik hasilnya lebih cepat dalam pengambilan keputusan dan cocok untuk situasi yang krisis atau ketika kelompok senang menerima tipe ini sebagai gaya keputusan. Bagaimanapun anggota staf umumnya lebih mendukung untuk pendekatan konsultatif dan kelompok. Konflik dapat terjadi ketika masalah tidak terstruktur dibahas atau jika manajer tidak mempunyai pengetahuan atau ketrampilan dalam proses pemecahan masalah.
2.8.3 Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Banyak faktor yang berpengaruh kepada individu dan kelompok dalam pengambilan keputusan, antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Faktor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik, personal karakteristik, kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa lalu, minat, pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu.Suatu nilai yang berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan masalah, bagaimana evaluasi itu dapat dilaksanakan.Nilai ditentukan oleh salah satu kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.
2.8.4 Pengambilan Keputusan Kelompok
Ada dua kriteria utama untuk pengambilan keputusan yang efektif:
1. Keputusan harus berkualitas tinggi dan dapat mencapai tujuan atau sasaran yang sebelumnya telah didefinisikan.
2. Keputusan harus diterima oleh orang yang bertanggungjawab melaksanakannya. Contoh; Rapat merupakan salah satu alat terpenting untuk mencapai informasi dan mengambil keputusan. Ada keuntungan-keuntungan tertentu yang dapat dipetik melalui suatu rapat, yaitu :
1) Masalah yang timbul menjadi jelas sifatnya karena dibicarakan dalam forum terbuka.
2) Interaksi kelompok akan menghasilkan pendapat dan buah pikiran serta pengertian yang mendalam.
3) Penerimaan dan pelaksanaan keputusan diambil oleh peserta rapat.
4) Rapat melatih menerima pendapat orang lain.
5) Melalui rapat peserta dilatih belajar tentang pemikiran orang lain dan belajar menempatkan diri pada posisi orang lain.
Langkah utama proses pengambilan keputusan adalah sama dengan proses pemecahan masalah. Fase ini termasuk mendefinisikan tujuan, memunculkan pilihan, mengidentifikasi keuntungan dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan pilihan, menyeleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum mendefinisikan tujuan, implementasi dan evaluasi.
2.8.5 Evaluasi dari Pilihan
Pilihan yang masuk ke kolom keuntungan itulah yang menjadi prioritas pengambilan keputusan. Mungkin ada 2 atau 3 pilihan, maka diseleksi lebih jauh untuk memilih satu pilihan.
1. Rangking sesuai prioritas dari pilihan tersebut
2. Seleksi pilihan yang terbaik

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Model Hubungan Perawat, Dokter, Dan Pasien
1. Model Aktivitas- Pasivitas
Suatu model dimana perawat dan dokter berperan aktif dan pasien berperan pasif. Model ini bersifat otoriter dan paternalistic.
2. Model Hubungan Membantu
Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktik keperawatan atau praktik kedokteran. Dalam model ini, perawat dan dokter mengetahui apa yang terbaik bagi pasien, memegang apa yang diminati pasien dan bebas dari prioritas yang lain. Model ini bersifat paternalistik.
3. Model Partisipasi Mutual
Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama atau kesejahteraan antara umat manusia merupakan nilai yang tinggi, model ini mencerminkan asumsi dasar dari proses demokrasi. Model ini mempunyai ciri bahwa setiap pasien mempunyai kemampuan untuk menolong dirinya sendiri yang merupakan aspek penting pada layanan kesehatan saat ini.
3.1.2 Hubungan Perawat dan Pasien
Seorang pasien dalam situasi menjadi pasien mempunyai tujuan tertentu. Seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan juga mempunyai tujuan tertentu. Kondisi yang dihadapi pasien merupakan penentu peran perawat terhadap pasien ( Husted dan Husted, 2006 ).
3.1.3 Hubungan antara Perawat dengan Perawat
Hubungan perawat dengan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural, dan hubungan intrapersonal.
3.1.4 Hubungan Perawatdan Dokter
Hubungan perawat dengan dokter telah terjalin seiring perkembangan kedua kedua profesi ini, tidak terlepas dari sejarah, sifat ilmu/ pendidikan, latar belakang personal dan lain- lain.
3.1.5 Model Pengambilan Keputusan
1. Pengkajian
2. Identifikasi masalah
3. Mempertimbangkan kemungkinan tindakan
4. Keputusan dan seleksi tindakan.
5. Refleksi terhadap keputusan dan tindakan yang diambil

3.1.6 Sikap Terhadap Kematian
Kehilangan tidakselalu oleh kematian tetapi semua kehilangan disertai putus hubungan. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
3.1.7 Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.

3.2 Saran
3.2.1 Berharap agar mahasiswa lebih memahami masalah-masalah etik moral pelayanan kesehatan.
3.2.2 Bisa memberi pemahaman untuk mahasiswa tentang masalah-masalah etik moral pelayanan kesehatan.


DAFTAR PUSTAKA

Kozier. (2000). Fundamentals of Nursing: concept theory and practices. Philadelphia. Addison Wesley.

Priharjo, R (1995). Pengantar etika keperawatan; Yogyakarta: Kanisius.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia.(1999, 2000).Kode Etik Keperawatan, lambing dan Panji PPNI dan Ikrar Perawat Indonesia, Jakarta: PPNI

Redjeki, S. (2005). Etika keperawatan ditinjau dari segi hukum. Materi seminar tidak diterbitkan.

Soenarto Soerodibroto, (2001). KUHP & KUHAP dilengkapi yurisprodensi Mahkamah Agung dan Hoge Road:Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada.

Makalah Patofisiologi tentang Sirkulasi, Cairan Tubuh dan Asam Basa

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap hari semua makhluk hidup perlu melakukan pengaturan keseimbangan air, elektrolit, dan asam basa. Pada manusia, asupan dan pengeluaran air dan elektrolit diatur lewat hubungan timbal balik hormon dan saraf yang mendasari perilaku dan kebiasaan makan. Sebagian besar proses metabolik yang berlangsung ditubuh menghasilkan pembentukan asam demi tercapainya keseimbangan asam basa. Asam-asam ini harus dikeluarkan dari tubuh melalui paru yang mengeluarkan pembuangan karbondioksida, ginjal melakukan pembuangan asam- asam lain. Paru dan ginjal bersama dengan berbagai sistem penyangga ditubuh memelihara konsentrasi asam plasma dalam batasan fisiologis yang sempit.
Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena dan didistribusikan ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit menandakan cairan dan elektrolit tubuh total yang normal, demikian juga dengan distribusinya dalam seluruh bagian tubuh.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang dikemukakan di atas maka kami mengangkat rumusan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Apa definisi dari sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa ?
1.2.2 Apa kelainan sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti proses pembelajaran tentang kelainan sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa, mahasiswa mampu memahami tentang kelainan sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa dengan baik dan benar.
1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses pembelajaran, mahasiswa dapat:
1. Menjelaskan definisi sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa
2. Menjelaskan kelainan sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Sistem sirkulasi darah adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dalam dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis). Sistem sirkulasi dibagi dalam dua bagian besar yaitu sistem kardiovaskular (peredaran darah) dan sistem limfatik.
Kelainan pada Sistem Peredaran Darah Manusia adalah kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem peredaran atau sirkulasi darah manusia baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.

2.2 Kelainan Sirkulasi, Cairan Tubuh, dan Asam Basa
2.2.1 Hyperaemia / Congestion / Pembendungan
Kongesti/ hiperemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat darah secara berlebihan di dalam pembuluh darah pada daerah tertentu. Daerah dimana terjadi kongesti biasanya berwarna merah atau ungu, hal ini terjadi karena bertambahnya darah di dalam jaringan. Secra mikroskopis kapiler-kapiler dalam jaringan hyperemia melebar dan penuh berisi darah.
Pada dasarnya terdapat dua mekanisme dimana kongesti dapat timbul:
a. Kenaikan jumlah darah yang mengalir ke daerah
b. Penurunan jumlah darah yang mengalir dari daerah
Kongesti Akti
Disebut kongesti aktif jika aliran darah bertambah dan menimbulkan kongesti. Hal ini artinya ada lebih banyak darah yang mengalir ke daerah itu dari biasanya.
Kongesti Pasif
Kongesti pasif tidak menyangkut kenaikan jumlah darah yang mengalir ke suatu daerah, tetapi lebih merupakan suatu gangguan aliran darah dari daerah itu.
Berdasarkan waktu serangannya, kongesti pasif dibagi 2, yaitu :
a. Kongesti pasif akut : berlangsung singkat, tidak ada pengaruh pada jaringan yang terkena.
b. Kongesti pasif kronis : berlangsung lama, dapat terjadi perubahan- perubahan yang permanen pada jaringan, terjadi dilatasi vena.
Contoh kongesti pasif adalah varises.
a. Menurut timbulnya, maka hiperemi dibedakan atas:
1) Hiperemi akut, tidak ada perubahan yang nyata
2) Hiperemi kronik, biasanya diikuti oleh oedem, atrofi dan degenerasi kadang-kadang sampai nekrosis atau terjadi juga proliferasi jaringan ikat.
Jenis Hiperemi yang lain adalah
a. Hiperemi aktif, yang terjadi karena jumlah darah arteri pada sebagian tubuh bertambah, biasanya terjadi secara akut.
b. Hiperemi pasif, terjadi karena jumlah darah vena atau aliran darah vena berkurang dan terjadinya dilatasi pembuluh vena dan kapiler.hiperemi jenis ini biasanya kronik tetapi dapat juga terjadi secara akut.

2.2.2 Edema
Edema adalah penimbunan cairan secara berlebihan diantara sel-sel tubuh atau di dalam berbagai rongga tubuh.
Patogenesis Edema:
1. kenaikan permeabilitas pembuluh darah.
2. obstruksi saluran limfe

Etiologi edema ada beberapa, yaitu:
1. Tekanan hidrostatik
2. Obstruksi saluran limfe
3. Kenaikan permeabilitas dinding pembuluh
4. Penurunan konsentrasi protein
Dalam edema, cairan yang tertimbun digolongkan menjadi 2, yaitu :
1. Transudat : yaitu cairan yang tertimbun di dalam jaringan karena bertambahnya permeabilitas pembuluh terhadap protein.
2. Eksudat : yaitu cairan yang tertimbun karena alasan-alasan lain dan bukan akibat dari perubahan permeabilitas pembuluh.

Macam-macam oedema: Oedema ada yang setempat dan ada juga yang menyeluruh atau umum disebut oedema anasarka. Jenis oedema:
1. Pitting oedema
2. Non pitting oedema

2.2.3 Perdarahan
Perdarahan adalah keluarnya darah dari sistem kardiovaskuler, disertai penimbunan dalam jaringan atau ruang tubuh atau disertai keluarnya darah dari tubuh. Misalnya : hemoperikardium, hemotoraks, hemoperitoneum, hematosalping.
Hemorhagi dapat terjadi karena darah keluar dari susunan kardiovaskuler atau karena diapedesis (artinya eritrosit keluar dari pembuluh darah yang tampak utuh).
1. Tempat terjadinya perdarahan :
a. Kulit, dapat berupa:
1) Petechiae, yaitu perdarahan kecil-kecil bidawah kulit yang terjadi secara spontan, biasanya pada kapiler-kapiler.
2) Echymosis, yaitu perdarahan yang lebih besar dari petechiae, yang terjadi secara Spontan.
3) Purpura, yaitu perdarahan yang berbentuk bercak, basarnya bercak antara petechiae dan echymosis.
b. Mukosa
c. Serosa
d. Selaput rongga sendi
2. Perdarahan mempunyai nama tersendiri tergantung lokasi :
a. Hematoma, yaitu penimbunan darah setempat, diluar pembuluh darah, biasanya telah membeku, sering menonjol seperti suatu tumor pada suatu jaringan.
b. Apopleksi, yaitu penimbunan darah yang dihubungkan dengan perdarahan otak.
c. Hemoptysis, yaitu perdarahan pada paru-paru atau salurannya kemudian dibatukkan keluar.
d. Hematemesis, yaitu keluarnya darah dari saluran pencernaan melalui muntah (muntah darah).
e. Melena, yaitu keluarnya darah dari saluran pencernaan melalui anus sehingga feces berwarna hitam
Etiologi perdarahan
a. Kerusakan pembuluh darah
b. Trauma
c. Proses patoloogik
d. Penyakit yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah.
e. Kelainan pembuluh darah.
3. Perdarahan dapat bersifat local atau sistemik
a. Perddarahan local
Tergantung lokasi perdarahan, bila lokasinya tidak vital maka tidak tampak gejala (tidak penting), sedangkan bila lokasinya vital, seperti pada:
1) Medulla oblongata, akan timbul kematian.
2) Otak, mengganggu fungsi otak sehingga dapat terjadi kelumpuhan.
3) Rongga pleura, mengakibatkan volume paru mengecil
b. Perdarahan sistemik
Tergantung dari cepat dan banyaknya perdarahan. Bila akut dan banyak maka dapat menyebabkan kollaps sehingga semua organ tubuh akan iskhemi dan tampak pucat.

2.2.4 Thrombosis
Trombosis adalah proses proses pembentukan bekuan darah atau koagulum dalam sistemVaskuler (pembuluh darah atau jantung) pada manusia. Trombosis ini memiliki nilai pentingdalam kasus perdarahan. Koagulum darah (thrombus) adalah suatu massa yang tersusun dariunsur-unsur darah didalam pembuluh darah. Thrombus dapat merupakan sumbatanhemostatis yang efektif yang terbukti membahayakan.
Etiologi Trombus
Ada tiga keadaan dasar yang menyebabkan terbentuknya bekuan (trombus):
1. Kelainan dinding dan lapisan pembuluh darah/ perubahan pada permukaan endotelpembuluh darah :Aterosklerosis (penyakit pada lapisan dan dinding atreri yang menyebabkantidak rata dan menebal. Arteri darah merupakan aliran tekanan tinggidengan kecepatan tinggi, berdinding agak tebal dan tidak mudah berubahbentuk)Poliarteritis nodosaTrombophlebitis2.
2. Kelainan aliran darah/perubahan pada aliran darah :Bila aliran darah berubah, misalnya menjadi lambat maka trombosit akan menepisehingga mudah melekat pada dinding pembuluh darah. Perubahan ini lebih seringterjadi pada Vena/flebotrombosis (aliran darah vena merupakan aliran bertekananrendah dan kecepatannya relatif rendah dan dindingnya tipis, sehingga mudahberubah bentuk) . Trombus sering terjadi pada : Varices dan vena yang terbendungakibat penekanan tumor.
3. Peningkatan daya koagulasi darah/ perubahan pada konstitusi darah :Perubahan dalam jumlah dan sifat trombosit dapat mempermudah trombosis olehkarena terjadi hiperkoagulasi sehingga trombosit mudahg melekat :Infark paruTumor ganas (terbentuk tromboplastin)Trombophlebitis.
Akibat Trombus :
1. Pada Trombosis Arteri : Jika arteri tersumbat oleh thrombus maka jaringan yangdisuplai oleh arteri itu akan kehilangan suplai darah yang menyebabkan kelainanfungsi jaringan sampai kematian.
2. Pada Trombosis Vena : akibat dari trombus vena agak berlainan, karena sistem venamempunyai saluran anastomosis sehingga Jika salah satu vena tersumbat, makadarah masih bisa menemukan jalan kembali ke jantung melalui saluran tadi. Hanya jika vena yang sangat besar yang tersumbat barulah timbul gangguan lokal.

2.2.5 Emboli
Emboli yaitu suatu benda asing yang tersangkut pada suatu tempat dalam sirkulasi darah. Prosesnya disebut Embolisme. Emboli dapat berasal dari trombus (tromboemboli) dalam jantung, Trombus dalam vena dan trombus dalam arteri. Embolus dapat berupa :
1. Benda padat yang berasal dari trombus, sel kanker ataupun dari kelompok bakteri dan jaringan
2. Benda cair yang berasal dari zat lemak maupun cairan amnion ataupun benda asingyang disuntikkan ke dalam sistim kardiovaskular
3. Benda gas, dapat berasal dari udara, nitrogen dan CO2 Patogenesis, Perjalanan dan Akibat Emboli
Emboli dalam tubuh terutama berasal dari trombus vena (v. profunda) yang terlepas danterbawa aliran darah masuk ke Vena Cava kemudian ke jantung kanan. Darah meninggalkan ventrikel kanan ke cabang utama arteri pulmonalis lalu ke cabang arteri pulmonalis kanan dankiri sampai ke pembuluh darah yang lebih kecil. Karena keadaan antomis ini maka emboli yangberasal dari trombus vena berakhir sebagai emboli arteri pulmonalis.
Emboli yang menyangkut sirkulasi arterial berasal dari bagian kiri sistem sirkulasi. Emboli arteripaling sering ditemukan berasal dari trombus intrakardium atau dari thrombus mural dalamaorta.Gelembung gas pada berbagai keadaan dapat menjadi emboli, keadaan ini dinamakan penyakit Caisson, yang timbul jika seseorang hidup dibawah tekanan atmosfir yang meningkat sepertidalam perlengkapan menyelam dibawah air karena makin banyak gas atmosfir yang terlarutdalam darah dan gelembung tersebut tersangkut dalam mikrosirkulasi, juga dapat vterjadi padakesalahan infuse IV atau pemasangan kateter.
Akibat-akibat embolus tergantung pada besar dan , jenis embolus, pembuluh darah yangterkena serta ada tidaknya kolateral, contoh :
 Bila terjadi sumbatan terutama bila trombus yang besar sebagai emboli maka dapatmenimbulkan kematian mendadak, insufisiensi pembuluh koroner, myocard infark dan anoksia otak Sebaliknya emboli pada pembuluh darah nyang lebih kecil (emboli arteripulmonalis) dapat tanpa gejala, perdarahan paru-paru akibat kerusakan vaskuler, ataunekrosis sebagian paru-paru
 Ada penyebaran sel tumor ganas yang terbawa oleh limfe
 Embolus dapat menyebabkan sarang-sarang infeksi baruPembagian embolus berdasarkan asalnya :
a. Embolus Vena
b. Emboli Arteri
c. Arteri lemak: terdiri dari butir lemak , cenderung terbentuk di dalam sirkulasi setelahtrauma (trauma tulang atau trauma jaringan lemak).
d. Emboli Cairan amnion
e. Emboli gas (jarang)

2.2.6 Atersklerosis
Keadaan dimana pembuluh arteri mengalami penebalan dan atau pengerasan dindingAda tiga keadaan yang tercakup :
1. Sklerosis Monckeberg : menyangkut pengendapan garam-garam kalsium dalamdinding muskuler arteri berukuran sedang. Bentuk ini secara klinis tidak pentingkarena endotel pembuluh tidak kasar dan lumennya tidak menyempit.
2. Arteriosklerosis : suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada pembuluh arteriyang mengakibatkan penebalan dan/pengerasan dinding arteri/atreriol. Keadaan inisering terlihat pada penderita Tekanan Darah Tinggi dan juga berhubungan denganketuaan
3. Aterosklerosis : Merupakan penyakit yang melibatkan aorta, cabang-cabangnya yangbesar dan arteri ukuran sedang. Aterosklerosis ini tidak melibatkan arteriol dan jugatidak melibatkan sirkulasi vena.Faktor yang menyokong perkembangan aterosklerosis :
a. Faktor genetik tertentu
b. Kolesterol tinggi
c. Diabetes Mellitus
d. Hipertensi
e. Merokok

2.2.7 Dehidrasi
Dehidrasi ialah suatu gangguan dalam keseimbangan air yang disertai ”output” yang melebihi ”intake” sehingga jumlah air pada tubuh berkurang.
Dehidrasi dapat terjadi karena :
a. Kemiskinan air (water depletion)
b. Kemiskinan natrium (sodium depletion)
c. Water and sodium depletion bersama-sama.
Kekurangan air atau dehidrasi primer :
Terjadi karena masuknya air sangat terbatas, misalnya pada pasien coma yang terus-menerus dan penderita rabies oleh karena hydrofobia. Gejala-gejala khas pada dehidrasi primer adalah: haus, air liur sedikit sekali sehingga mulut kering, oliguria, sampai anuri, sangat lemah, timbulnya gangguan mental seperti halusinasi dan delirium.
Dehidrasi sekunder (sodium defletion)
Dehidrasi yang terjadi karena tubuh kehilangan cairan tubuh yang mengandung elektrolit. Gejala-gejala dehidrasi sekunder : nausea, muntah-munyah, kekejangan, sakit kepala, perasaan lesu dan lelah.

2.2.8 Gangguan Keseimbangan Asam Basa
1. Keseimbangan Asam Basa
Derajat keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairan tubuh lainnya. Satuan derajat keasaman adalah pH.
Klasifikasi pH
 pH 7,0 adalah netral
 pH diatas 7,0 adalah basa (alkali)
 pH dibawah 7,0 adalah asam

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam keseimbangan asam basa adalah :
a. Konsentrasi ion hidrogen [H+]
b. Konsentrasi ion bikarbonat [HCO3-]
c. pCO2
2. Definisi Keseimbangan Asam Basa
Asam adalah setiap senyawa kimia yang melepas ion hidrogen kesuatu larutan atau kesenyawa biasa. Contoh asam klorida ( HCl), hidrogen ( H+) dan ion klorida ( Cl-). asam karbonat (H2CO3) , H+ dan ion bikarbonat ( HCO3-)
Basa adalah senyawa kimia yang menerima ion hidrogen. Contoh, ion bikarbonat HCO3-, adalah suatu basa karena dapat menerima ion H+ untuk membentuk asam karbonat (H2CO3). Demikian juga fospat ( HPO4) suatu basa karena dapat membentuk asam fospat (H2PO4).
Keseimbangan asam-basa adalah mekanisme yang digunakan tubuh untuk menjaga cairan ke tingkat netral (tidak asam atau basa) sehingga tubuh dapat berfungsi dengan baik.
3. Gangguan Metabolic
a. Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama:
1) Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam.
2) Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.
3) Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya

Sebab-sebab alkalosis metabolik Kehilangan H dari ECF.
1) Kehilangan melalui saluran cerna (berkurangnya volume ECF)
a. Muntah atau penyedotan nasogastrik
b. Diare dengan kehilangan klorida
2) Kehilangan melalui ginjal
a. Diuretik simpai atau tiazid (pembatasan NaCl + berkurangnya ECF)
b. Kelebihan mineralokortikoid
(1) Hiperaldosteronisme
(2) Syndrom cushing ; terapi kortikosteroid eksogen )
(3) Makan licorice berlebihan
3) Karbenisillin atau penicillin dosis tinggi
Retensi HCO3
1) Pemberian Natrium Bikarbonat berlebihan
2) Sundrom susu alkali (antasid, susu, natrium bikarbonat)
3) Darah simpan (sitrat) yang banyak (>8unit)
4) Alkalosis metabolik hiperkapnia (setelah koreksi pada asidosis respiratorik kronik)

4. Gangguan Pernafasan
a. Asidosis Respiratorik
Ciri: PaCO2 ↑ >45mmHg dan pH <7,35 → kompensasi ginjal retensi dan peningkatan [HCO3-]
Sebab-sebab asidosis respiratorik (sebab dasar = Hipoventilasi)
Hambatan pada pusat pernafasan di medula oblongata
1) Obat-obatan : Kelebihan dosis opiat, sedatif, anestetik (akut)
2) Terapi oksigen pada hiperkapnea kronik
3) Henti jantung (akut)
4) Apnea saat tidur
Gangguan otot-otot pernafasan dan dinding dada :
1) Penyakit neuromuskuler : miastenia gravis, sindrom guillain-Barre, poliomielitis, sklerosis lateral amiotropik.
2) Deformitas rongga dada : kifoskoliosis
3) Obesitas yang berlebihan : sindrom pickwikian
4) Cedera dinding dada seperti patah tulang-tulang iga
Gangguan pertukaran gas :
1) PPOM (emfisema dan bronkitis)
2) Tahap akhir penyakit paru intrinsik yang difus
3) Pneumona atau asama yang berat
4) Edema paru akut
5) Pneumotorak
Obstruksi saluran nafas atas yang akut :
1) Aspirasi benda asing atau muntah
2) Laringospasme atau edema laring, bronkospasme berat
b. Alkalosis Respiratorik
Ciri: penurunan PaCO2 7,45 → kompensasi ginjal meningkatkan ekskresi HCO3-
Sebab-sebab alkalosis Respiratorik (sebab dasar =hiperventilasi)
Perangsangan sentral terhadap pernafasan
1) Hiperventilasi psikogenik yang disebabkan oleh stres emosional
2) Keadaan hipermetabolik : demam, tirotoksikosis
3) Gangguan SSP
4) Cedera kepala atau gangguan pembuluh darah otak
5) Tumor otak

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat kami simpulkan bahwa kelainan sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa sangat beresiko pada manusia. Keseimbangan cairan dan elektrolit menandakan cairan dan elektrolit tubuh total yang normal, demikian juga dengan distribusinya dalam seluruh bagian tubuh. begitupun sebaliknya, jika keseimbanga cairan dan elektrolit tidak normal, maka distribusinya pun tidak dapat mengalirkan ke seluruh bagian tubuh dengan normal.

3.2 Saran
1. Berharap agar mahasiswa lebih memahami masalah kelainan pada sirkulasi, cairan tubuh, dan asam basa
2. Bisa memberi pemahaman untuk mahasiswa
3. Dan terakhir, makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu agar pembaca senantiasa memberikan kritik dan saran kepada kami.